Beranda > Tips > Setelah Sahur Jangan Langsung Tidur

Setelah Sahur Jangan Langsung Tidur

September 11, 2009

Makan sahur dan buka akan memperingan sistem pencernaan. Celakanya, makan di tengah malam itu begitu berat dijalankan, seberat membuka mata.

 Begitu adzan Maghrib berkumandang, tangan Herry (nama samaran, 32) langsung menyambar segelas es teh manis. Sekali tenggak, habis. Giliran semangkuk kolak pisang hanya dalam beberapa sendok, licin tandas. Wajah staf marketing sebuah perusahaan jamu ini agak sumringah setelah kerongkongannya dibilas segelas es blewah.

’’Seharian empat kali presentasi, ancur gua!’’ keluh ayah seorang balita ini, apalagi ia dalam keadaan berpuasa.

Lima menit istirahat, pria tambun berbobot 89 kilogram ini siap melahap sepiring nasi dengan gundukan lauk pauk di sana sini.

Seperempat jam kemudian, tuntas sudah. Herry duduk bersandar, wajahnya berkeringat. Sambil mengendapkan rasa kenyang, sebatang rokok berkepulan di antara jari kanannya.

Perubahan waktu makan
Herry bukan satu-satunya. Sepanjang bulan Ramadhan banyak orang yang mengubah perilaku makannya, terutama saat berbuka puasa dan makan sahur.
Padahal, menurut Dr. Eva J. Soelaeman, Sp.A., berpuasa sebenarnya hanya mengganti waktu makan. Dalam sehari kita biasa makan besar dua kali, makan siang dan makan malam. Sedangkan selama Bulan Ramadhan, makan besar tetap dua kali, yakni sahur dan buka puasa.

Yang berbeda, lanjut Eva, pada yang berpuasa pemasukan cairannya berubah. Biasanya, cairan tubuh ada terus-menerus, karena kita pun minum beberapa kali dalam satu hari, dengan jumlah 1,5 – 2 liter air. Sedang saat berpuasa frekuensi minum terbatas. Sebagian orang berpendapat, “Malas ah, malam-malam makan, masih ngantuk”, lalu akhirnya tidak makan sahur. Dokter asal Aceh itu menyayangkan tindakan mengabaikan makan sahur. Selain ada pahalanya, makan sahur tetap harus dilakukan, sebab selama 13 jam kita berpuasa kita harus memiliki cadangan energi. Kalau tidak, tentu berdampak terhadap kesehatan.

Sahur dan buka sebaiknya tetap dilakukan sesuai aturan, karena secara gastrointestinal (berhubungan dengan lambung dan usus) puasa hanyalah perubahan waktu makan. Volume makan pun tetap saja harus dikontrol, jangan berlebihan.

Jangan langsung tidur
Yang penting diperhatikan, harus ada jeda yang cukup setelah makan besar.
Kesalahan kebanyakan di antara kita, sesudah sahur atau buka puasa, shalat sebentar, lalu tidur. Padahal, seharusnya tidak demikian, tidak boleh langsung tidur sehabis makan. Tunggu minimal setengah jam, saran Eva.

Ia menganjurkan, makan sahur dilakukan mendekati waktu Subuh, agar sesudah shalat tidak tidur lagi. Jadi, bukan santap sahur pukul 02.00, lalu tidur lagi.
Alasannya, sewaktu tidur tubuh menjadi sangat rileks, sehingga gerakan usus lambat sekali, sedangkan kita makan sampai perut penuh. Jadi, metabolisme pencernaan terganggu, karena makanan terus-menerus berada di dalam usus.

Seandainya peraturan yang sudah digariskan sejak zaman Nabi Muhammad S.A.W. diikuti, menurut Eva, itu sudah bagus. Perut yang biasanya terus-menerus terisi, saat berpuasa agak diubah sistem pencernaannya, tidak bekerja keras tiga kali sehari, tetapi dua kali.

Ada pendapat, berpuasa itu amat penting dilakukan, sebab memberi kesempatan pada semua organ dalam tubuh untuk beristirahat. Saat berpuasa, sistem pencernaan dibebaskan dari tugas, sehingga tubuh punya waktu untuk melakukan pembersihan. Tubuh pun memerlukan pembersihan dari racun-racun yang terkumpul dari makanan yang tidak tercerna, asam urat, polusi, pestisida pada makanan, dan lain-lain.

Jangan pikir makanan
Bagi penderita maag, adakah kiat khusus untuk berpuasa?
Eva memilah dulu gradasi penyakit si penderita, sebab penyakit maag bervariasi antara yang ringan hingga berat. Karena sifatnya individual, maka harus dilihat kasusnya. Ada orang yang sakit maag karena terlalu banyak makan yang pedas-pedas.

“Kalau ia berpuasa tentunya tidak makan pedas ’kan? Jadi tidak ada rangsangan yang menimbulkan sakit maag,” imbuh Eva.

Ada juga orang yang sakit maagnya sudah parah. Eva menganjurkan, dicoba puasa dulu, dengan sistem setengah hari. Jadi, seperti orang disapih. Jika langsung tidak makan, pengeluaran asam lambungnya berlangsung cepat. “Kalau kita tidak makan, baru memikirkan makanan saja, kadang-kadang asam lambung sudah keluar.” Makanya, orang berpuasa tidak boleh memikirkan makanan, nanti asam lambungnya keluar, perut pun perih, jadi laparlah.

Penderita diabetes pun – apalagi yang sudah tergantung pada insulin – harus hati-hati, bahkan bila perlu diatur kembali. Misalnya, melakukan penyuntikannya sesudah berbuka puasa. Yang sehari harus tiga kali suntik, itu sebaiknya jangan berpuasa.

%d blogger menyukai ini: