Beranda > Osbesitas > BODY MASS INDEX (BMI) = Indeks Massa Tubuh

BODY MASS INDEX (BMI) = Indeks Massa Tubuh

Istilah “normal”, “overweight” dan “obese”  dapat berbeda-beda, masing-masing negara dan budaya mempunyai kriteria sendiri-sendiri, oleh karena itu, WHO menetapkan suatu pengukuran / klasifikasi obesitas yang tidak bergantung pada bias-bias kebudayaan.

Metoda yang paling berguna dan banyak digunakan untuk mengukur tingkat obesitas adalah BMI (Body Mass Index), yang didapat dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter). Nilai BMI yang didapat tidak tergantung pada umur dan jenis kelamin.

Keterbatasan BMI adalah tidak dapat digunakan bagi:

  • Anak-anak yang dalam masa pertumbuhan
  • Wanita hamil
  • Orang yang sangat berotot, contohnya atlet

BMI dapat digunakan untuk menentukan seberapa besar seseorang dapat terkena resiko penyakit tertentu yang disebabkan karena berat badannya. Seseorang dikatakan obese dan membutuhkan pengobatan bila mempunyai BMI di atas 30, dengan kata lain orang tersebut memiliki kelebihan BB sebanyak 20%.

Klasifikasi BMI Menurut WHO (1998)

Kategori

BMI (kg/m2)

Resiko Comorbiditas

Underweight

< 18.5 kg/m2

Rendah (tetapi resiko terhadap masalah-masalah klinis lain meningkat)

Batas Normal

18.5 – 24.9 kg/m2

Rata-rata

Overweight:

> 25

Pre-obese

25.0 – 29.9 kg/m2

Meningkat

Obese I

30.0 – 34.9kg/m2

Sedang

Obese II

35.0 – 39.9 kg/m2

Berbahaya

Obese III

> 40.0 kg/m2

Sangat Berbahaya

Klasifikasi Berat Badan yang diusulkan berdasarkan BMI pada
Penduduk Asia Dewasa (IOTF, WHO 2000)

Kategori

BMI (kg/m2)

Risk of Co-morbidities

Underweight

< 18.5 kg/m2

Rendah (tetapi resiko terhadap masalah-masalah klinis lain meningkat)

Batas Normal

18.5 – 22.9 kg/m2

Rata rata

Overweight:

> 23

At Risk

23.0 – 24.9 kg/m2

Meningkat

Obese I

25.0 – 29.9kg/m2

Sedang

Obese II

> 30.0 kg/m2

Berbahaya

Para ahli sedang memikirkan untuk membuat klasifikasi BMI tersendiri untuk penduduk Asia. Hasil studi di Singapura memperlihatkan bahwa orang Singapura dengan BMI 27 – 28 mempunyai lemak tubuh yang sama dengan orang-orang kulit putih dengan BMI 30. Pada orang India, peningkatan BMI dari 22  menjadi 24 dapat meningkatkan prevalensi DM menjadi 2 kali lipat,  dan prevalensi ini naik  menjadi 3 kali lipat pada orang dengan BMI 28.

obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan.
setiap orang memerlukan sejumlah lemak tubuh untuk menyimpan energi, sebagai penyekat panas, penyerap guncangan dan fungsi lainnya.
rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria.
wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas.
seseorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badannya yang normal dianggap mengalami obesitas.
Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:

  obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%

  obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%

  obesitas berat : kelebihan berat badan >100%.

obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari antara orang-orang yang gemuk.
perhatian tidak hanya ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun, tetapi juga kepada lokasi penimbunan lemak tubuh. pola penyebaran lemak tubuh pada pria dan wanita cenderung berbeda.
wanita cenderung menimbun lemaknya di pinggul dan bokong, sehingga memberikan gambaran seperti buah pir. sedangkan pada pria biasanya lemak menimbun di sekitar perut, sehingga memberikan gambaran seperti buah apel.
tetapi hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang mutlak; kadang pada beberapa pria tampak seperti buah pir dan beberapa wanita tampak seperti buah apel, terutama setelah masa menopause.

seseorang yang lemaknya banyak tertimbun di perut mungkin akan lebih mudah mengalami berbagai masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas. mereka memiliki resiko yang lebih tinggi. gambaran buah pir lebih baik dibandingkan dengan gambaran buah apel.

untuk membedakan kedua gambaran tersebut, telah ditemukan suatu cara untuk menentukan apakah seseorang berbentuk seperti buah apel atau seperti buah pir, yaitu dengan menghitung rasio pinggang dengan pinggul.
pinggang diukur pada titik yang tersempit, sedangkan pinggul diukur pada titik yang terlebar; lalu ukuran pinggang dibagi dengan ukuran pinggul.
seorang wanita dengan ukuran pinggang 87,5 cm dan ukuran pinggul 115 cm, memiliki rasio pinggang-pinggul sebesar 0,76.
wanita dengan rasio pinggang:pinggul lebih dari 0,8 atau pria dengan rasio pinggang:pinggul lebih dari 1, dikatakan berbentuk apel.

Informasi Penyebab,Gejala, Pengobatan, Diagnosis, Pencegahan dan lain lain hanya ada di medicastore.com

APAKAH OBESITAS ITU?
Oleh: Dr. Nisa Ike Rini A.

Obesitas: Berat badan lebih yang terutama disebabkan akumulasi (timbunan) lemak tubuh

Kriteria umum: Berat badan lebih : Indeks Masa Tubuh (IMT atau BMI) > 25 kg/m2
Obesitas : IMT > 30 kg/m2

Klasifikasi Obesitas Menurut WHO (1998)

INDEKS MASA TUBUH

KATEGORI

< 18,5

Berat badan kurang

18,5 – 24,9

Berat badan normal

25 – 29,9

Berat badan lebih

30 – 34,9

Obesitas I

35 – 39,9

Obesitas II

> 39,9

Sangat obesitas

Prevalensi

Di negara barat sangat tinggi
– AS, 1 dari 3 penduduk obesitas
– Inggris, 16-17,3%
– Indonesia, Berat badan lebih 12,8 – 30%; Obesitas 1,5 – 5%
– Ditentukan secara genetik
– Wanita mempunyai kecenderungan 2 kali lebih besar dari pria
– Meningkat cepat

Bagaimana cara menentukan obesitas?

Berat badan (Kg)
Indeks Masa Tubuh = ——————–
Tinggi Badan (m2)

Contoh:
Berat Badan 74.8 kg, Tinggi badan 167 cm (1,67 m)
74.8 kg : 1.67 kuadrat = 26.8
Keterangan = Berat Badan lebih

Mengapa obesitas menjadi masalah ?

Karena:
obesitas merupakan faktor risiko untuk: Penyakit jantung, Diabetes melitus, Hipertensi, Dislipidemia dan lain-lain.

Obesitas meningkatkan risiko untuk masalah kesehatan lainnya, seperti: Sleep apnea syndrom, artritis gout, batu empedu, osteoartritis dan lain-lain.

Bagaimana mengatasi obesitas ?

A. Tanpa obat (non farmakologis)
Modifikasi gaya hidup
1. Diet:
– Rendah kalori: 1000-1500 kal.
– Sangat rendah kalori: 400 – 500 kal.
– Rendah lemak: 1200 – 2300 kal, 20 – 30% lemak

2. Aktivitas fisik – Aerobik
3. Kombinasi aktivitas fisik dan diet
4. Terapi perilaku

B. Dengan obat (farmakoterapi)
Dilakukan bila:
– Indeks Masa Tubuh > 30
– Indeks Masa Tubuh > 27 disertai faktor risiko: Hipertensi, DM tipe 2, Penyakit Jantung Koroner
– Terdapat penyakit lain seperti: SLeep apnea, osteoarthritis

Bedah LAGB, Kupas Tuntas Obesitas
Kuala Lumpur – Obysity Morbid atau kegemukan fatal mutlak dikategorikan sebagai penyakit. Selain degeneralisasinya merambat ke mana-mana, satu yang menakutkan dari penyakit ini adalah kematian dini. Tapi jangan khawatir, kini sudah ada operasi kecil yang ampuh mencegahnya. Tanpa efek samping!

Rudi, panggil saja begitu, mungkin pria gemuk paling beruntung di Jakarta. Di saat mereka sudah merasa bosan mencoba berbagai cara memelorotkan berat badan,bobot 120 kilo tubuhnya singset dengan gampang. Perutnya susut 180% tak sampai dua bulan sepulangnya dari Malaysia.
Bukan rahasia besar, seperti mengunjungi sinshe ampuh di Negeri Jiran itu. Bukan pula lantaran menenggak pil diet buatan lokal di sana. Berbekal informasi temannya di Bandung, Rudi hanya berbaring selama empat hari di Pantai Cheras Medical Centre, Kuala Lumpur. ”Selama dua jam perut saya dibedah, lalu dimasukkan silikonpenghilang nafsu makan,” kata pria berusia 38 tahun, itu tertawa lebar lantaran diejek berobat ke sinshe.
Tadinya, dia sendiri kurang percaya saran rekannya itu. Lima tahun berupaya ke sana ke mari cuma membuatnya bosan dan kapok. Kantongnya terus bobol tanpa hasil memuaskan. Tengok saja bermacam pil diet yang sudah dia telan, sinshe-sinshe dia langgani, atau melakoni berbagai program penurunan berat badan, toh, tetap dijuluki dugem, plesetan dari kata dunia gembrot. ”Tapi hanya dua bulan pasca-operasi ini badan langsung susut, nafsu makan gila-gilaan saya memang sangat berkurang,” tutur Rudi, Banquet Manager di sebuah hotel di kawasan Kuningan ini.
Ceritanya terdengar susah dipercaya. Dari jatah normal sehari makan tiga kali, termasuk mengunyah camilan seperti coklat, es krim, permen dan berjenis junk food, sejak operasi itu Rudi sudah kekenyangan hanya makan empat ons sekali makan. ”Seketika itu juga beratnya turun sampai 60 kilo,” kata Rudi
Sebetulnya, tujuan dia mau melakukan operasi berbiaya 35 ribu ringgit atau sekitar 85 juta (kurs rupiah per satu ringgit adalah Rp 2.450) itu bukan hanya semata ingin kurus. ”Saya cuma takut tidak punya umur panjang,” katanya, sambil tersenyum kecil. Sayangnya, informasi mengenai keberadaan operasi sejenis di Indonesia tidak pernah kedengaran sampai telinganya. Rudi tetap harus menjalani operasi di Pantai Cheras Medical Centre, Kuala Lumpur

Mengancam Semua
Mestinya, bukan hanya dia yang punya ketakutan seperti itu. Kegemukan fatal (obesity morbid) kini semakin menjadi dilema di dunia. Tahukah Anda, obesitas fatal saat ini telah menjadi penyebab kematian dini?
Di Amerika Serikat, obysity morbid diklaim hampir menggantikan tempat pertama penyebab kematian yang bisa dicegah, yakni merokok. Data American Obysity Association yang terangkum di Anti-Aging Medical News edisi 2003 mengungkapkan, 69 juta penduduk Amerika Serikat mengalami overweigth (kelebihan berat badan), dan 51 juta lainnya menderita obesitas fatal.
Khusus angka untuk overweight (kelebihan berat badan) terjadi pada 61 persen penduduk dewasa di atas usia 20 tahun. Lalu, 26 persen selebihnya adalah obesitas. Itu belum mengagetkan. Pasalnya, sepertiga kematian orang dewasa di negara Paman Sam itu disebabkan oleh obesitas fatal akibat buruknya pola makan dan kurang olahraga. ”Bahkan semangat tinggi menurunkan berat badan ke arah menyehatkan sekalipun tidak akan banyak membantu jika obesitas morbid telah muncul,” ungkap Dr. Widya Murni, MARS (Master Administrasi Rumah Sakit).

Tak Kenal Siklus Lapar
Umumnya, progam diet atau penggunaan produk tertentu untuk mengurangi berat badan jarang bertahan lama. Menurut Widya, keduanya ”tidak pernah” betul-betul tuntas memperbaiki obesitas. ”Belum lagi Sindroma Yoyo yang mengintai para pediet,” sergah Dr Widya di sela acara seminar sehari ”Menuju Sehat & Cantik Sepanjang Masa”, Minggu pekan lalu lalu di hotel JW Marriot, Jakarta.
Menurut Sekretaris Umum Perkumpulan Awet Sehat Indonesia ini, sindroma tersebut adalah momok utama penderita obesitas. Yakni, kembalinya kondisi obesitas setelah penderita stop berdiet. ”Seseorang harus kembali berdiet dan setelah itu harus siap pula menerima kembali lagi penderitaannya bersama obesitas, terus saja begitu,” ujar Widya.
Tetapi, sekarang tidak perlu terlalu khawatir. Ada cara baru yang tepat mengatasi obesitas morbid secara permanen ke tahap lebih baik, yaitu Laparoscopic Adjustable Gastric Banding (LAGB). Inilah jenis operasi yang dilakukan diam-diam oleh Rudy di Kuala Lumpur, enam bulan silam.
LAGB merupakan alternatif baru tindakan bedah yang tergolong unik. Penempatan lap-band jenis Lap-Band BioEnterics dalam operasinya dilakukan melalui teknik laparoskopik. Lap-Band sendiri terdiri dari dua kata, yaitu Lap atau ’laparoskopik’ dan Band ’lingkaran’. ”Jelasnya adalah lingkaran yang dibalut pada perut,” terang Widya.
Berdurasi satu sampai dua jam, LAGB hanya sejenis operasi kecil. Namun begitu, sasarannya sangat menusuk, mulai dari menekan selera makan, menakar jumlahnya yang masuk ke perut, serta melancarkan pencernaan. Pembedahannya dilakukan dengan sayatan seminimal mungkin. Lalu, lingkaran silikon tersebut diikatkan pada bagian atas perut (lambung). Lambung pun terbagi dua dengan meninggalkan sedikit bukaan kecil yang disebut stoma.
”Bisa dibilang dengan stoma inilah kita akan menyetel selera makan,” tukas Widya. Dia lalu mengatakan, yang menjadikan Lap-Band itu istimewa adalah stoma yang bisa diubah melalui access port tanpa perlu adanya pembedahan lagi. ”Dan tidak ada sama sekali efek samping, kecuali jika terjadi komplikasi pada pembedahan, tapi itu kan lain soal,” tandas Widya.
(Ben Muhalief, kontributor)

Manipulasi Gen Sembuhkan Obesitas

Harvard, Sinar Harapan
Kabar baik bagi para penderita obesitas alias kelebihan bobot tubuh. Para ahli medis telah menemukan teknik manipulasi gen yang bisa menjadi penyembuh obesitas.
Adalah Gary Ruvkun, seorang ahli biologi Harvard University yang berhasil mengidentifikasi sekitar 400 gen dalam kode genetika cacing gelang yang berhubungan dengan produksi dan penyimpanan lemak.
Timnya telah mampu menghentikan aktivitas sekitar 300 gen tersebut dalam sebuah eksperimen. Hasilnya, cacing-cacing tersebut mengalami perampingan tubuh. Dan ketika mereka menonaktifkan 100 gen lain justru cacing tersebut menjadi gemuk. Secara detil teknik eksperimen ini dipublikasikan dalam jurnal Nature edisi terbaru.
Teknik pengamatan gen ini tergolong hal baru dalam dunia kedokteran. Menurut Ruvkun, kalau tiga tahun silam ia mencoba teknik ini maka banyak orang yang akan menganggapnya gila.
Namun eksperimen terhadap cacing gelang atau Caenorhabditis elegans ini sudah kerap dilakukan karena prosesnya cukup mudah dan murah. Manusia dan cacing gelang memiliki 19.000 gen yang serupa, termasuk di antaranya 200 gen yang berfungsi sebagai penyimpan lemak. ”Walau belum diketahui apakah teknik ‘mematikan’ gen lemak ini bisa juga dilakukan pada manusia, namun dasar pengembangan obat obesitas sudah diketahui,” ujar Ruvkun.
Masalah kelebih-an berat badan ini menjadi cukup serius di Amerika Serikat (AS) dan negara maju lain. Biasanya penderita obesitas selalu terkait dengan berbagai penyakit kardiovaskuler, diabetes dan banyak lagi. Saat ini, satu dari lima orang Amerika menderita obesitas. .(ap/mer)

OBESITAS DI USIA PERTENGAHAN MUNCULKAN RISIKO DEMENSIA

*** Penyandang obesitas (kegemukan), jika pengobatan diabetes, penyakit jantung, dan stroke tidak dibarengi dengan perawatan intensif untuk menurunkan berat badannya maka akan timbul penyakit demensia. Periset di AS menyimpulkan kegemukan atau obesitas ini khususnya pada perempuan memunculkan risiko perkembangan demensia lebih cepat.

“Obesitas di usia pertengahan memunculkan risiko di kemudian hari penyakit demensia,” kata Dr Rachel Whitmer dari lembaga Kaiser Permanente, sebuah organisasi perawatan kesehatan di Oakland California.

Dr Rachel Whitmer beserta tim risetnya mengkaji lebih dari 10.000 laki-laki dan perempuan yang telah dievaluasi kesehatannya dari tahun 1964 sampai 1973 ketika mereka berada di usia 40-45 tahun. Setelah 27 tahun, 7% pasien mengalami perkembangan demensia.

“Orang yang menderita obesitas di usia pertengahan 74% lebih memiliki demensia. Sementara itu, pasien yang hanya mengalami kelebihan berat badan hanya 35% memiliki risiko demensia dibanding dengan pasien yang mempunyai berat badan normal,” kata Dr Rachel Whitmer. Riset ini dilaporkan di British Medical Journal.

Risiko tinggi dimiliki perempuan yang mempunyai obesitas. Mencapai hampir 200% atau lebih risiko demensia dibanding perempuan dengan berat badan normal.

Obesitas diukur melalui body mass index (BMI). Kalkulasi indeks dilakukan dengan mengalikan antara berat badan dengan tinggi badan. Standar indeks BMI adalah jika lebih dari 30 atau lebih maka disebut menderita obesitas.

Pengaruh berat badan juga dihubungkan dengan tingginya risiko penyakit jantung, diabetes, beberapa penyakit kanker, dan masalah psikologis yang mungkin muncul. Dr Rachel Whitmer dan tim risetnya menyarankan, pengobatan dan perawatan obesitas di usia pertengahan dapat membantu mengurangi risiko demensia di usia lanjut.

Penduduk dunia pada usia pertengahan bakal mengidap demensia. Penyakit ini tumbuh sekitar 400% dalam kurun waktu 20 tahun. Beberapa estimasi juga disebutkan 45 juta penduduk dunia akan mengalami demensia pada 2050.

“Kegagalan melakukan pencegahan kegemukan pada usia pertengahan memungkinkan berelasi dengan perjalanan usia sehingga memunculkan demensi

APAKAH KEGEMUKAN MENULAR ?

Penulis/Peneliti : Dr. Diana Elizabeth Waturangi, M.Si

Bidang Penelitian :

Jurnal : Artikel Kompas

Volume : Senin, 4 Oktober 2004

Tahun : Oktober 2004

Saat ini banyak cara ditawarkan untuk melangsingkan tubuh, mulai dari jamu gendongan, program pelangsingan tubuh sampai sedot lemak. Hal ini menunjukkan betapa kegemukan telah menjadi suatu masalah bagi masyarakat. Namun ternyata banyak yang tidak berhasil, karena kegemukan bukan suatu masalah yang sederhana.

Kegemukan yang membahayakan
Pada umumnya setiap orang mendambakan berat badan yang ideal, apalagi wanita. Namun tidak sedikit juga yang memiliki masalah dengan kegemukan bahkan sampai obesitas. Obesitas merupakan masalah yang mendunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Angka obesitas terus meningkat dari tahun ke tahun. Laporan WHO tahun 2003 menyebutkan, di dunia lebih dari 300 juta orang dewasa menderita obesitas. Bahkan di Amerika 280.000 orang meninggal setiap tahunnya diakibatkan karena obesitas. Di Jakarta diperkirakan 10 dari 100 orang penduduk menderita obesitas. Biasanya kondisi ini menjadi pemicu penyakit-penyakit seperti jantung, artritis, diabetes-tipe 2 serta tekanan darah tinggi. Orang-orang yang punya masalah dengan obesitas, cenderung disalahkan oleh masyarakat sebagai orang yang tidak memiliki semangat yang kuat untuk menurunkan berat badan (lack of will power). Selama ini faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab obesitas antara lain: pola makan; kurang olah raga; kelainan metabolisme serta faktor genetika.

Faktor genetika
Sejak ditemukannya hormon leptin sepuluh tahun lalu, yaitu hormon yang mengontrol nafsu makan serta mengatur proses pembakaran lemak dalam tubuh, penelitian tentang gen-gen yang berperan dalam obesitas berkembang dengan pesat. Bahkan lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan jumlah restoran-restoran “All you can eat” yang sekarang marak dimana-mana.

Paling tidak sudah dua gen yang diteliti berasosiasi dengan obesitas, yaitu gen ob (obesity) yang memproduksi leptin; serta gen db (diabetic) yang memproduksi reseptor leptin. Leptin dihasilkan oleh sel-sel lemak lalu dikeluarkan ke dalam peredaran darah. Saat leptin mengikat reseptor leptin yang berada di otak, maka terjadi proses penghambatan pengeluaran neuropeptida Y, dimana neropeptida Y berpengaruh meningkatkan nafsu makan. Sehingga bila tidak ada leptin nafsu makan menjadi tidak terkontrol.

Sejumlah orang yang memiliki masalah obesitas telah diteliti, dan ternyata mengalami mutasi baik pada gen yang memproduksi leptin atau gen reseptor leptin, sehingga berpengaruh pada kontrol makanan dalam tubuh.

Dengan tehnik rekayasa genetika, kloning gen leptin dari manusia ke dalam bakteri Escherichia coli telah dilakukan, dengan tujuan memproduksi leptin dalam jumlah besar. Percobaan pada tikus yang mengalami mutasi pada gen penghasil leptin, menunjukkan adanya penurunan berat badan saat diberikan terapi dengan leptin. Tetapi pada kenyataannya tidak semua orang yang menderita obesitas diakibatkan karena mutasi pada gen penghasil leptin. Jadi tentu ada faktor lain yang ikut berperan ?????.

Infeksi virus
Penemuan Dr. Nikhil Dhurandhar dari University of Wisconsin, Madison, berhasil membuka misteri lain dari obesitas di luar faktor genetika, yang selama ini dituduh menjadi penyebab utama obesitas. Ternyata obesitas bisa merupakan suatu penyakit yang diakibatkan oleh infeksi virus. Virus ini dapat mengakibatkan penumpukan lemak dalam tubuh, sehingga disebut dengan virus lemak/ fat virus.

Virus lemak pertama kali ditemukan pada ayam. Ayam yang terinfeksi virus lemak, lebih gemuk dibandingkan dengan ayam yang tidak terinfeksi, hal lain yang mengherankan kadar kolesterol serta trigliserida dalam darahnya lebih rendah dibandingkan dengan ayam normal. Keadaan yang sama juga terjadi pada manusia yang terinfeksi virus lemak.

Saat infeksi terjadi, virus lemak menyebar ke dalam darah dan sel-sel lemak, berikutnya virus memacu sel-sel lemak untuk mengambil kolesterol dan trigliserida dari dalam darah sehingga terjdai penumpukan pada sel-sel lemak. Itulah sebabnya pada orang yang terinfeksi, kadar kolesterol dalam darahnya menjadi lebih rendah dari orang normal. Penemuan ini telah dipublikasi di International Journal of Obesity 2000.

Studi pada virus lemak
Studi yang dilakukan terhadap ayam; tikus dan monyet yang disuntik dengan virus lemak, menunjukkan peningkatan lemak dalam tubuh dengan kisaran 50-100%, dibandingkan dengan hewan yang tidak disuntik virus walaupun diberikan porsi makanan yang sama.
Virus lemak merupakan kelompok Adenovirus-36. Sampai saat ini telah diketahui 50 jenis adenovirus manusia, dan mengakibatkan penyakit-penyakit seperti: radang otak, influenza bahkan diare. Adenovirus biasanya dapat ditularkan lewat udara, kontak langsung, bahkan lewat air. Lalu apakah virus lemak (adenovirus-36) dapat ditularkan dengan cara yang sama ?. Hal ini masih memerlukan studi lebih lanjut untuk meneliti mekanisme infeksi dari virus lemak tersebut.
Survei terhadap sejumlah penderita obesitas di Amerika menunjukkan 30% diantaranya terinfeksi virus lemak, dan kadar kolesterol serta trigliserida dalam darahnya juga lebih rendah sebesar 35 mg, dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi. Penemuan ini merupakan suatu terobosan besar dalam bidang ilmu pengetahuan, dan mungkin bisa mengubah banyak hal dalam mengatasi obesitas. Walaupun tidak semua orang yang menderita obesitas diakibatkan karena infeksi virus, tetapi telah terbukti bahwa infeksi virus lemak berperan penting sebagai penyebab obesitas.
Dalam surat kabar Washington Post Agustus 2004, American Obesity Association melaporkan tehnik laboratorium yang telah dikembangkan untuk mendeteksi virus lemak dari darah. Orang-orang yang terinfeksi virus lemak tidak menyadari adanya infeksi ini sampai dilakukan tes laboratorium, karena tidak adanya gejala klinis yang spesifik.

Kaitan antara mikroorganisme dan penyakit
Penemuan-penemuan terakhir tentang adanya kaitan antara mikroorganisme (bakteri, cendawan, virus) dengan beberapa penyakit begitu mengherankan. Hal-hal yang semula dianggap tidak berkaitan dengan infeksi, sekarang mulai terlihat berhubungan. Sebagai contoh: bakteri Chlamidia pneumoniae yang sebelumnya diketahui hanya menyebabkan infeksi saluran pernapasan ternyata juga dapat mengakibatkan penyakit jantung begitu pula dengan cytomegalovirus (CMV). Contoh lain adalah sakit maag yang selama ini dikenal disebabkan oleh stres, makanan pedas atau produksi asam lambung yang berlebih, ternyata diakibatkan oleh bakteri Helicobacter pylori. Bahkan infeksi bakteri ini juga bisa mengakibatkan kanker lambung. Begitu pula dengan autisme, penelitian terakhir menunjukkan infeksi bakteri Clostridium tetani, berperan penting mengakibatkan terjadinya autisme. Artinya penyakit-penyakit yang selama ini diduga berhubungan dengan faktor fisiologi ataupun metabolisme tubuh ternyata diakibatkan oleh infeksi mikroorganisme.
Kembali ke obesitas, apabila nanti telah terbukti sebagian besar obesitas diakibatkan infeksi virus lemak, maka tantangan ke depan yang perlu dilakukan adalah mendesain vaksin untuk mengatasi serangan virus lemak.
Tulisan ini tidak bermaksud memberikan kambing hitam baru bagi orang-orang yang terbiasa dengan pola hidup yang tidak sehat.

kegemukan adalah ketidakseimbangan jumlah makanan yang masuk dibanding dengan Akupuntur pengeluaran energi oleh tubuh. Obesitas dapat menimbulkan berbagai penyakit s

Dr. Noviani

Akupunktur tidak hanya dapat meningkatkan vitalitas, membantu proses penyembuhan penyakit , tetapi dapat pula membantu keberhasilan program penurunan berat badan anda.

Obesitas dan penyakit

Obesitas atau kegemukan merupakan suatu keadaan fisiologis dimana lemak disimpan secara berlebihan di dalam jaringan tubuh. Seseorang dikatakan mengalami obesitas bila berat badan melebihi 10 % dari berat badan ideal. Obesitas  merupakan permasalahan sejak zaman dahulu kala. Keadaan ini merupakan salah satu kelainan metabolisme yang paling lama tercatat dalam sejarah seperti terlihat  pada sebuah patung tanah liat yang berasal dari zaman lebih kurang 22.000 tahun sebelum masehi ; patung tersebut menggambarkan seorang wanita setengah baya yang obes. Obesitas kemudian masih selalu tercatat sepanjang sejarah , sejak zaman Mesir dan Yunani purba, bahkan sampai sekarangpun masih menjadi persoalan, terutama dalam hal pengobatannya.

Obesitas menimbulkan berbagai dampak baik dari segi psikososial maupun masalah medis.  Orang yang obeis mempunyai banyak kesulitan dalam melakukan aktivitas fisik sehari-hari dan orang yang obeis pun mengeluarkan biaya sehari-hari untuk pakaian dan dan makanan yang lebh besar dan dapat pula mempunyai masalah dalam hubungan suami istri dan pada anak kecil sering ditemukan persoalan identifikasi diri. Dari sudut medis penderita obesitas lebih sering untuk sakit. Penderita obesitas pun mempunyai angka harapan hidup yang lebih rendah dari populasi berat badan normal.  Data New York Metropolitan Life Insurance menunjukkan bahwa pada kelompok umur 40 – 69 tahun yang obeis ditemukan angka kematian 42 % lebih besar daripada rata-rata pada laki-laki dan 36 % lebih besar daripada rata-rata pada wanita.  Bagi si penderita obeis sendiri dapat pula timbul rasa rendah diri , rasa tertekan , serta keputusasaan dan menimbulkan keinginan yang besar untuk menjadi lebih ramping , yang terlihat dengan keinginannya untuk menjalani berbagai program diet.

Apakah diet saja cukup ?

Banyak permasalahan yang timbul bila penderita obesitas hanya mengandalkan diet saja seperti :  penderita sudah mencoba berbagai macam diet dan membatasi berbagai macam asupan makanan , penderita obesitas merasa makanannya sudah sedikit dan sangat susah mengurangi yang sudah sedikit tersebut. Penderita pun kadang lebih tersiksa dengan program dietnya daripada masalah kegemukkannya sendiri. Pergi berkonsultasi dengan dokter keluarga pun kadang tidak membantu.  Salah satu penelitian besar menunjukkan bahwa lebih dari dari setengah yang menjalani diet mengatakan adalah menghabiskan waktu dengan mengunjungi dokter untuk menanyakan saran melangsingkan badan.  Penelitian lainnya menunjukkan bahwa hampir sepertiga dari dokter keluarganya sendiri mempunyai masalah kelebihan berat badan.

Suplemen maupun obat pengurus badan bermanfatkah buat Anda ?

Usaha lain yang banyak dilakukan adalah dengan mengkonsumsi berbagai suplemen makanan yang diklaim dapat menurunkan berat badan. Saya tidak akan membicarakan apalagi menganjurkan obat-obat kimia yang dikatakan efektif menurunkan berat badan namun memberikan efek samping yang merugikan tubuh anda. Cara pengobatan ini sering tanpa hasil yang nyata, bahkan seringkali obat yang diberikan memberikan efek samping seperti insomnia, sakit kepala, mudah gugup, mulut kering serta kadangkala timbul reaksi ketergantungan.

Mengenai suplemen makanan yang dikatakan dapat menurunkan berat badan tidak pula selamanya aman. Diet tinggi serat dengan memakan banyak sayuran dan buah segar memang sangat dianjurkan untuk kesehatan tubuh dan dapat membantu mengurangi serapan lemak dari saluran pencernaan , namun penggunaan suplemen high fibre dalam kemasan mungkin dapat mempunyai pengaruh yang lain. Dalam jurnal kedokteran  terkemuka The Lancet dengan judul high fibre diet can damage your health ? dibahas pula  mengenai penggunaan suplemen tinggi serat yang berlebih dapat mengakibatkan proliferasi sel-sel di usus besar dan penggunaan jamu pengurus badan pada beberapa kasus dilaporkan memberikan efek toksik terhadap ginjal . Jadinya sealami apapun bahan yang anda konsumsi dapat pula mengakibatkan reaksi yang tidak alami ( this may be natural product but can make unnatural reaction ! ).  Apalagi bila bahan tersebut digunakan dalam jangka waktu yang lama dan dalam dosis yang besar. Berhati-hatilah pula dengan efek sampingnya.

Mengatasi obesitas dengan Akupunktur

Penggunaan akupunktur sebagai salah satu alternatif untuk membantu program pengurangan berat badan telah terbukti sangat efektif dan tanpa efek samping. Metode ini  telah tersusun dan terumuskan sejak sekitar 3.000 tahun sebelum masehi. Para dokter ahli akupuntur yang telah melakukan berbagai riset, sampai pada kesimpulan bahwa akupuntur pada telinga memberikan efek yang baik. Dari sekian banyak titik akupuntur telinga yang digunakan, titik lapar (T 18) adalah yang paling efektif. Jenis jarum telinga (press needle) direkat dengan plaster. Penderita diminta memegang jarum selama 2-3 menit pada saat lapar, setengah jam sebelum makan sebanyak tiga kali sehari. Follow-up dilakukan satu minggu sekali untuk evaluasi respon subyektif dalam hal pengurangan rasa lapar dan respon obyektif dari penurunan berat badan.  Reaksi yang timbul akibat rangsangan pada daerah ini adalah lebih tahan lapar. Penekanan jarum telinga merangsang ramus auricularis Nervus Vagus, melalui Nervus Vagus disalurkan ke cabang-cabang yang memepengaruhi system gastrointestinal atau sistem pencernaan bagian atas. Kontraksi otot ditekan sehingga keadan lambung menjadi tenang, sehingga rasa lapar berkurang dan rasa lapar berkurang pula. Penelitian pada 802 kasus obesitas yang ditangani dengan akupuntur, 594 kasus memberikan hasil adanya penurunan berat badan. Keberhasilan terapi dicapai setelah 8 minggu  ditandai dengan adanya penurunan berat sebanyak 7-10 kilogram

erius, antara lain

Obesitas/Kegemukan
[2004-07-14 05:32:27]

Gejala-gejala:

Lemak adalah unsur yang harus ada dalam tubuh manusia. Tanpa lemak, aktifitas alami dari tulang dan otot tidak dapat dilakukan walaupun hanya sekejap. Tapi jika lemak ini tertimbun secara tidak normal melebihi ambang kebutuhan badan, maka ia menyebabkan tidak bekerjanya semua organ tubuh sesuai dengan kapasitasnya. Keadaan ini disebut obesitas.


Penyebab:

Kurangnya kerja fisik dan pada saat yang sama disertai mengkonsumsi banyak yogurt, susu, mentega, dan makanan berkalori tinggi lainnya, makan banyak makanan yang manis, serta yang banyak menghasilkan lendir (ikan, asam jawa, dan lain-lainnya) adalah penyebab utama dari obesitas. Dan jika disamping penyebab-penyebab tersebut di atas , seseorang mengalami stress mental , maka pada sebagian besar kasus dia akan menjadi gemuk.

Orang-orang yang melakukan kerja fisik memerlukan jenis makanan bergizi dan non vegetarian, serta ghee (mentega). Mereka yang melakukan kerja mental dan tidak mengerjakan terlalu banyak kerja fisik membutuhkan sangat sedikit makanan yang non vegetarian, manis , dan berlemak. Tapi orang-orang yang memanjakan indra, untuk mendapatkan kepuasan rasa, makan banyak asupan yang tidak mereka butuhkan atau yang hanya sedikit mereka perlukan.

Sekarang di dunia banyak orang yang tidak melakukan kerja fisik, tapi hidup sekehendak hatinya, karena mereka telah hidup makmur, mereka bisa membeli makanan yang relatif mahal, dan mengkonsumsinya semata untuk memenuhi selera makan mereka. Akibatnya, di satu pihak badan mereka melar akibat lemak yang tidak perlu, sedang di pihak lain, mereka yang melakukan kerja manual terpaksa hidup dalam kemiskinan dan tidak bisa memperoleh ghee (sejenis mentega India), mentega , dan makanan manis yang mereka butuhkan untuk menjaga badan mereka; mereka tidak memiliki apapun untuk menggantikan dengan baik enerji yang telah mereka pakai, dan mereka menjadi lemah, kurus, dan berkesehatan buruk. Karena kurang gizi dan kerja fisik berlebihan mereka kemudian menjadi korban tuberculosis. Ingatlah bahwa pada negara tropis, makanan non vegetarian pada umumnya seperti racun saja, akan tetapi bagi mereka yang melakukan kerja fisik, sedikit mengkonsumsi makanan semacam itu tidak akan berakibat buruk bagi badan ataupun pikiran mereka.

Jadi poin saya di sini adalah bahwa obesitas merupakan sebuah penyakit dari masyarakat yang makmur dan kurang kerja fisik. Pekerja kantoran bergaji tinggi, pengusaha kaya, dan politisi korup adalah orang-orang yang biasanya menderita kegemukan.

Perlu dicamkan bahwa lemak yang tersimpan dalam tubuh manusia adalah semata-mata energi kerja dalam bentuk yang laten. Sewaktu puasa atau melakukan kerja fisik, maka ia luluh, dan ditransformasikan menjadi energi vital atau energi kerja. Jadi bagi orang yang sedikit bekerja fisik, lemaknya kemudian menjadi musuhnya, dan menghantarkannya menuju kematian.

Jika lemak tertimbun pada bagian perut, ia menyebabkan ketidaksuburan bagi wanita, dan impotensi bagi pria. Itulah sebabnya kenapa kita menemukan bahwa pada banyak kasus orang gemuk tidak memiliki anak. Terlalu banyak akumulasi lemak pada dada dan adomen mengganggu váyu; dan kemudian, sepanjang liver belum terganggu, maka orang itu menderita munculnya rasa lapar yang mendadak, dan menusuk yang sedemikian parahnya sehingga pada tempat-tempat di mana ia dijamu, ia terkenal akan kerakusannya. Tanda yang paling dapat dikenali dari dari orang-orang seperti ini adalah mereka paling rakus akan makanan yang paling menggemukkan; oleh karena itu , bila mereka diundang makan di luar rumah, mereka dengan sengaja tidak menyantap hidangan pembuka berupa sayur-sayuran dan memilih banyak luci’, ikan, daging, dan makanan manis.

Sewaktu mereka menua, dan liver mereka melemah, mereka akan kehilangan nafsu makan mereka yang sangat besar itu. Kemudian dengan sedih mereka mengatakan pada orang-orang bahwa mereka tidak dapat mengkonsumsi makanan seperti yang dulu mereka lakukan. Otot-otot mereka akan menjadi kaku dan mereka mulai menderita keasaman, konstipasi atau gangguan usus. Lemak yang terakumulasi pada dada mempengaruhi jantung dan paru-paru , dan membuat mereka sulit bekerja. Pernafasan para penderita obesitas ini menjadi terganggu, mereka mudah lelah, sulit bernafas, dan kalau duduk bekeringat banyak. Lemak yang tertimbun pada urat darah membuat pasien menderita tekanan darah tinggi, yang pada akhirnya menimbulkan pendarahan dalam akibat pecahnya pembuluh pada otak atau bagian tubuh lainnya yang menyebabkan kematian atau kelumpuhan.


Terapi :

  • Tahap pertama:
    Pagi : Utkšepa Mudrá, Diirgha Prañáma, Yogamudrá dan Bhújaungásana.
    Sore : Matsyamudrá, Naokásana, Paschimottánásana dan Matsyendrásana.
    Setelah agak menguasai asana-asana di atas, mulailah menginjak tahap kedua.
  • Tahap kedua:
    Pagi : Utkšepa Mudrá, Diirgha Prañáma, Yogamudrá, Bhújaungásana dan Padahastásana.
    Sore : Matsyamudrá, Naokásana, Pashcimottánásana dan Matsyendrásana.
    Setelah agak menguasai asana-asana di atas mulailah melakukan tahap ketiga
  • Tahap ketiga:
    Pagi : Utkšepa Mudrá, Yogamudrá, Diirgha Prañáma, Bhújaungásana, Karmásana dan Garud’ásana.
    Sore : Naokásana, Pashcimottánásana, Matsyendrásana dan Kurmakásana.


Diet:

Beberapa penderita obesitas berusaha untuk mengurangi makan, dengan anggapan bahwa dengan melakukan hal ini mereka akan kehilangan berat badan. Ini bukanlah pendekatan yang benar, karena diet seperti ini bisa melemahkan pasien hingga ia tidak bisa berdiri atau berjalan.

  1. Orang hendaknya minum empat sampai lima seer ( 4 sampai 5 X 933,12 gram, atau kira-kira hampir 4 sampai 5 liter) air setiap hari, tapi jangan sekaligus banyak sekali minum. Sedapat mungkin pasien harus selalu menambahkan air jeruk nipis dalam air minum.
  2. Berhentilah sepenuhnya mengkonsusmsi makanan non vegetaraian, ghee (mentega) dan minyak. Tiga atau empat seer ( 3 atau 4 x 933,12 gram atau hampir 3 sampai 4 liter) susu yang diencerkan dengan air harus diminum beberapa kali sehari, sedikit demi sedikit
  3. Tergantung kepada selera makan, semua jenis buah terutama jenis yang berair banyak dan masam bisa dikonsumsi dalam kuantitas yang banyak. Buah-buahn seperti ini sangat berfaedah bagi penderita kegemukan.
  4. Kurangi atau hilangkan nasi, rut’i dan polong-polongan , dan sebaliknya makanlah sayuran hijau atau sop dari bahan ini dalam jumalah yang lebih besar.
  5. Kurangilah pemakaian gula mentah atau suling, tapi sedikit madu bisa dipergunakan — tidak lebih dari tiga sendok penuh setiap hari.


Anjuran dan Pantangan :

Aturan puasa dan mandi matahari harus dipatuhi oleh para pasien. Secara umum, obesitas adalah penyakit akibat kurang gerak dan kerakusan,. Jadi sejauh mungkin, makanlah makanan yang sederhana . Daripada luci dan puri, konsumsilah rut’i kering. Dan para pasien harus menghilangkan kebiasaan duduk dan memberi perintah, lebih baik melakukan kerja dengan tenaga fisik sendiri.

Obesitas, Tak Sekedar Timbunan Lemak

Pengetahuan tentang obesitas kini makin berkembang. Obesitas tak hanya berhubungan dengan bertambahnya jumlah dan besar sel lemak. Berbagai hormon dan sistem neuroendokrin ternyata turut berperan dalam perjalanan penyakit ini. Pengetahuan tersebut kemudian mempengaruhi strategi pengobatan obesitas.
Hormon yang sering dikaitkan dengan obesitas akhir-akhir ini adalah leptin. Leptin diproduksi oleh sel lemak. Jumlahnya di sirkulasi sebanding dengan jumlah lemak tubuh. Hormon yang bekerja pada reseptor di hipotalamus ini menghambat asupan makanan dan meningkatkan penggunaan energi. Efek tersebut diperoleh melalui pengaruhnya terhadap ekspresi gen dan alur sintesis dari bahan anorektik (supresi nafsu makan) dan oreksigenik (stimulasi nafsu makan). Leptin menghambat ekspresi messenger-ribonucleic acid neuropeptide Y (mRNA NPY), suatu peptida oreksigenik hipotalamik yang diproduksi nukleus arkuatus. Selain itu, leptin juga menghambat sebuah peptida oreksigenik lain yaitu melanin-concentrating hormone (MCH) serta menyebabkan down regulasi dari endocannabinoids. Endocannabinoids merupakan reseptor cannabinoid di hipotalamus yang merangsang masukan makanan. Di sisi lain, leptin menstimulasi ekspresi dari gen peptida anoreksigenik sehingga menyebabkan anoreksia. Peptida yang dimaksud adalah alpha melanocyt stimulating hormone (alpha MSH) dan cocaine-amphetamin-regulated transcript.
Selain memiliki efek terhadap hipotalamus, leptin juga mempengaruhi jaringan non adiposa perifer. Leptin mempunyai efek antilipogenik dan prooksidatif. Leptin mengendalikan masuknya asam lemak plasma ke jaringan non adiposa, oksidasi asam lemak dalam sel, serta sintesis asam lemak dalam jaringan. Efek tersebut diperoleh dengan menurunkan sebagian ekspresi faktor transkripsi lipogenik serta melakukan up regulasi dari faktor dan enzim oksidatif. Pengaruh leptin yang lain adalah menjadi antagonis insulin mediated lipogenesis serta menurunkan produksi very low density lipoprotein (VLDL) hati.
Pada penderita obesitas, yang terjadi bukanlah jumlah leptin tersebut yang sedikit sehingga proses penghambatan asupan makanan serta peningkatan penggunaan energi terganggu. Bahkan sebaliknya, kadar leptin yang ditemukan di sirkulasi tinggi. Hanya pada beberapa orang dengan obesitas berat yang didapatkan defisiensi leptin kongenital atau mutasi gen yang mengkode reseptor leptin. Oleh karena itu, kemudian dianggap bahwa obesitas pada manusia disebabkan oleh adanya resistensi leptin.
Selain leptin, yang juga sering dikaitkan dengan obesitas adalah insulin. Jumlah hormon tersebut di sirkulasi proporsional dengan jumlah lemak tubuh. Sama dengan leptin, kerja insulin di reseptor hipotalamus dapat mengurangi asupan makanan dan meningkatkan penggunaan energi. Selain memiliki efek di hipotalamus, insulin sendiri dapat meningkatkan produksi leptin karena memiliki reseptor di sel adiposa putih.
Berkembangnya pengetahuan tentang mekanisme hormonal dan neuroendokrin yang terjadi pada obesitas kemudian mempengaruhi strategi pengobatan terhadap obesitas. Salah satu contohnya adalah sibutramin. Obat ini dapat menurunkan ekspresi mRNA NPY sehingga mengurangi asupan makanan dan meningkatkan termogenesis. Beberapa obat lain yang bekerja melalui target yang berbeda juga sedang diteliti. Pengetahuan tersebut juga menimbulkan pendapat bahwa untuk memperoleh penurunan berat badan yang efektif tidak hanya bisa melalui satu target. Strategi yang bisa dilakukan yaitu dengan mengombinasikan obat, misalnya obat yang berefek anoreksigen dikombinasikan dengan obat-obat yang meningkatan oksidasi lipid serta mengurangi resistensi insulin.
Dengan makin berkembangnya pengetahuan tentang obesitas, Di masa datang diharapkan pengobatan terhadap obesitas akan lebih efektif. Keberhasilan pengobatan obesitas nantinya diharapkan juga akan membantu terapi terhadap penyakit kronik lain. Vina

Apabila Anda tertarik untuk mengetahui lebih lengkap tentang topik ini dapat membaca “Naskah Lengkap Penyakit Dalam PIT 2004” yang diterbitkan oleh Pusat Informasi dan Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI

Obat Penangkal Obesitas dan Diabetes Ditemukan

Oleh Sinar Harapan

JAKARTA – Diabetes dan kelebihan berat alias obesitas merupakan dua hal tak terpisahkan. Penderita obesitas biasanya cenderung mengidap diabetes, juga sebaliknya. Tapi kini sudah ditemukan obat yang bisa menekan keduanya. Hasil studi Rimonabant In Obesity (RIO)-Lipids dan Studies with Rimonabant And Tobacco Use (STRATUS-US) yang telah dipresentasikan pada pertemuan tahunan American College of Cardiology di New York, Orleans, awal Maret 2004, menunjukkan temuan tersebut.

Dalam rilis yang diterima SH belum lama ini, terapi obat Rimonabant terhadap pasien obesitas dengan dyslipidemia yang tidak dirawat ternyata berhasil mengurangi berat badan pasien dalam satu tahun, sekaligus memperbaiki profil lipid dan glukosa mereka. ”Obesitas dan merokok adalah penyakit berbahaya yang mencapai proporsi epidemi di seluruh dunia dan merupakan faktor risiko yang sudah sangat dikenal untuk penyakit cardiovascular,” demikian dikatakan Chris Cannon, M.D., Associate Professor of Medicine di Harvard Medical School and Associate Physician di Cardiovascular Division of Brigham and Women’s Hospital, Boston.

Pada orang-orang obesitas, makan berlebihan dan akumulasi lemak diasosiasikan pada aktivasi yang berlebihan pada EC System, yang juga menjadi tidak seimbang dengan penggunaan tembakau yang kronis. Hal ini menyebabkan timbulnya serangkaian sinyal yang ditransmisikan oleh sebuah reseptor yang terdapat dalam EC System, yaitu CB1 receptor, yang dapat ditemukan di otak dan bagian lain dari tubuh.

Obat golongan Rimonabant dengan merk dagang ACOMPLIA terbukti bekerja dengan cara menutup secara selektif receptor CB1, membantu menormalkan EC System yang terganggu. Pada orang-orang obesitas, hal ini diperkirakan akan menyebabkan penurunan berat badan, menurunkan lingkar pinggang dan memperbaiki metabolisme glukosa dan lipid. (mer)

Pentingnya Penelitian tentang Virus

JAKARTA Indonesia sekarang ini bisa dibilang sebagai daerah yang sangat rawan terjangkit penyakit. Belum lagi badai flu burung reda menyerang, kemudian tiba wabah demam berdarah yang terlanjur mematikan banyak orang. Ini masih juga ditambah dengan masalah lama, seperti virus HIV/AIDS, yang hingga sekarang semacam kucing yang terus saja membuntuti ikan asin incarannya.

”Maka dari itu diperlukan sebuah stasiun riset yang bisa mengidentifikasi keberadaan berbagai virus ini di Indonesia,” ucap Prof.Dr.Yanto Lunardi Iskadar, dalam acara peresmian Institute of Human Virology & Cancer Biology-UI (IHVCB-UI), di Jakarta, Rabu (24/3) lalu.

Kesadaran untuk mengetahui apa yang ada di balik sebuah masalah, bisa jadi menjadi pangkal penolak segala masalah virus tadi. Ketidakberdayaan ilmuwan negeri ini untuk mengidentifikasikan berbagai virus tersebut, hingga kini malah jadi bumerang yang terus menyerang. ”Padahal kalau kita tahu jenis virus apa yang ada di sini, kita bisa memilih jenis obat apa yang paling pas untuk mengobati mereka,” tambah Yanto lagi.

Sementara itu Direktur Direktorat Riset & Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, Dr. Pratiwi Pudjilestari Sudarmono PhD, menganggap bahwa jalan keluar yang terbaik untuk meminimalkan penyebaran virus di Indonesia adalah melalui jalan vaksinasi. (slg)

Obesitas & Depresi, Ancaman Terbesar bagi Anak

Sabtu, 01 Nov 2003 21:48:24 WIB

pdpersi, Jakarta – Jika selama ini anak obesitas identik dengan latar belakang keluarga kaya dan serba berkecukupan, hasil riset di Universitas Brandeis Massachusetts dan Pusat Medis Rumah Sakit Anak Cincinnati AS justru menemukan fakta sebaliknya. Tingkat pendidikan dan pendapatan keluarga yang rendah ternyata berkorelasi dengan obesitas dan juga depresi.
Penelitian pada lebih dari 15.000 remaja di AS menemukan fakta bahwa sekitar sepertiga dari kasus depresi dan obesitas di antara para remaja tersebut terkait dengan latar belakag orang tua yang berpendapat rendah atau berpendidikan rendah.
“Kondisi sosial ekonomi memberikan pengaruh besar terhadap beban penyakit tersebut. Untuk memahami kesehatan dan perilaku remaja, konteks itu perlu dipertimbangkan dalam kehidupan remaja,” kata peneliti Dr. Elizabeth Goodman dari Universitas Brandeis seperti dikutip situs berita Yahoo.com/HealthDay akhir pekan lalu.
Hasil studi itu akan dimuat dalam American Journal of Public Health edisi November. Penelitian itu menemukan fakta, pendapatan keluarga yang rendah menyebabkan 26 persen kasus depresi dan 32 persen kasus obesitas pada remaja.
Sedangkan, pendidikan orang tua yang rendah berhubungan dengan 40 persen kasus depresi dan 39 persen kasus obesitas pada remaja. Pendidikan orang tua yang rendah merupakan faktor yang lebih kuat dibandingkan dengan pendapatan baik untuk kasus depresi maupun obesitas.
“Dampak pendidikan mungkin lebih terkait dengan perbedaan dalam keahlian interpersonal, sedangkan dampak pendapatan mungkin lebih kuat dihubungkan dengan barang dan jasa,” kata Goodman. “Obesitas dan depresi mewakili masalah kesehatan umum yang penting bagi remaja saat ini, karena keduanya merupakan penyakit kronis yang biasanya bertahan hingga dewasa.”

Obesitas Menjadi Epidemi
Obesitas pada anak-anak kini menjadi epidemi di AS. Jumlah anak yang kelebihan berat badan naik dua kali lipat dalam dua hingga tiga dasawarsa terakhir.
Saat ini satu dari lima anak mengalami obesitas. Kenaikan terjadi baik pada anak-anak dan remaja, dan dalam semua kelompok umur dan jenis kelamin.
Anak-anak yang kegemukan kini memiliki penyakit seperti diabetes tipe dua yang dulu hanya terjadi pada orang dewasa. Anak-anak yang kelebihan berat badan cenderung menjadi dewasa dengan kelebihan berat badan juga. Akibatnya, mereka beresiko terkena penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan stroke.
Kendati faktor genetik juga memainkan peran, namun sebenarnya gen sendiri tidak menjadi penyebab kasus obesitas selama beberapa dasawarsa terakhir. Sehingga dipastikan ada penyebab-penyebab lain yang membuat kasus obesitas membumbung tinggi.
Kegemukan pada kaum dewasa dipicu memiliki penyebab yang sama yaitu makan terlalu banyak dan bergerak terlalu sedikit.
Hampir setengah dari anak-anak berusia 8-16 tahun menonton televisi selama tiga sampai lima jam per hari. Anak-anak yang paling lama menonton televisi memiliki kemungkinan obesitas tertinggi.
Jika ingin tahu apakah anak anda kelebihan berat badan, bicaralah dengan dokter mereka. Dokter dapat mengukur tinggi dan berat badan anak anda dan menghitung rasio yang disebut indeks berat badan (BMI).
Jumlah itu dibandingkan dengan tabel pertumbuhan untuk anak-anak seusia anak anda dan jenis kelamin untuk menentukan apakah anak anda kegemukan atau tidak.
Berikut adalah hal-hal yang perlu diketahui tentang kegemukan: Pertama, anak-anak yang mengalami obesitas dan remaja menunjukkan kenaikan dalam resiko diabetes tipe dua, yang juga dikenal sebagai diabetes yang menyerang anak-anak.
Kedua, banyak anak obesitas memiliki kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi, yang menjadi faktor resiko bagi penyakit jantung.
Ketiga, salah satu masalah terburuk untuk anak obesitas adalah “sleep apnea” (nafas terhenti sesaat saat tidur). Dalam sejumlah kasus hal itu dapat menyebabkan masalah dalam belajar dan ingatan.
Keempat, anak kegemukan memiliki kejadian tinggi masalah ortopedi, penyakit hati dan asma.
Kelima, remaja yang mengalami kelebihan berat badan memiliki peluang 70 persen menjadi orang tua dengan kelebihan berat badan atau obesitas.(iis)

Obesitas dan Faktor Penyebab

Oleh: Zainun Mu’tadin, SPsi., MSi.

Jakarta, 13 Mei 2002

Dengan melihat fenomena yang terjadi sekarang ini, tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa obesitas merupakan salah masalah rumit  yang seringkali dihadapi remaja dan juga termasuk orang dewasa.  Hal ini tercermin dalam banyak dana yang dikeluarkan untuk melakukan diet, membeli obat-obatan pelangsing dan peralatan olahraga yang bertujuan untuk menurunkan berat badan.

Obesitas atau kegemukan terjadi pada saat badan menjadi gemuk (obese) yang disebabkan penumpukan adipose (adipocytes: jaringan lemak khusus yang disimpan tubuh) secara berlebihan. Jadi obesitas adalah keadaan dimana seseorang memiliki berat badan yang lebih berat dibandingkan berat idealnya yang disebabkan terjadinya penumpukan lemak di tubuhnya.

Dihadapkan pada obesitas, tidak jarang seorang remaja bereaksi secara berlebihan. Tidak jarang pula mereka menjadi frustrasi karena meskipun sudah melakukan diet ketat dan mengkonsumsi ramuan atau obata-obatan penurun berat badan, ternyata bobot tubuh tidak kunjung susut. Apa sebenarnya yang terjadi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita perlu melihat faktor-faktor yang menjadi penyebab obesitas. Menurut para ahli, didasarkan pada hasil penelitian, obesitas dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah faktor genetik, disfungsi salah satu bagian otak, pola makan yang berlebih, kurang gerak / olahraga, emosi, dan faktor lingkungan

Genetik

Kegemukan dapat diturunkan dari generasi sebelumnya pada generasi berikutnya di dalam sebuah keluarga. Itulah sebabnya kita seringkali menjumpai orangtua yang gemuk cenderung memiliki anak-anak yang gemuk pula.  Dalam hal ini nampaknya faktor genetik telah ikut campur dalam menentukan jumlah unsur sel lemak dalam tubuh.  Hal ini dimungkinkan karena pada saat  ibu yang obesitas sedang hamil maka unsur sel lemak yang berjumlah besar dan melebihi ukuran

normal, secara otomatis akan diturunkan kepada sang bayi selama dalam kandungan. Maka tidak heranlah bila bayi yang lahirpun memiliki unsur lemak tubuh yang relatif sama besar.

Kerusakan Pada Salah satu Bagian Otak

Sistem pengontrol yang mengatur perilaku makan terletak pada suatu bagian otak yang disebut hipotalamus –sebuah kumpulan inti sel dalam otak yang langsung berhubungan dengan bagian-bagian lain dari otak dan kelenjar dibawah otak. Hipotalamus mengandung lebih banyak pembuluh darah dari daerah lain pada otak, sehingga lebih mudah dipengaruhi oleh unsur kimiawi dari darah.

Dua bagian hipotalamus yang mempengaruhi penyerapan makan yaitu hipotalamus lateral (HL) yang menggerakan nafsu makan (awal atau pusat makan); hipotalamus ventromedial (HVM) yang bertugas merintangi nafsu makan (pemberhentian atau pusat kenyang). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa bila HL rusak/hancur maka individu menolak untuk makan atau minum, dan akan mati kecuali bila dipaksa diberi makan dan minum (diberi  infus). Sedangkan bila kerusakan terjadi pada bagian HVM maka seseorang akan menjadi rakus dan kegemukan.

Pola Makan Berlebihan

Orang yang kegemukan lebih responsif dibanding dengan orang berberat badan normal terhadap isyarat lapar eksternal, seperti rasa dan bau makanan, atau saatnya waktu makan. Orang yang gemuk cenderung makan bila ia merasa ingin makan, bukan makan pada saat ia lapar. Pola makan berlebih inilah yang menyebabkan mereka sulit untuk keluar dari kegemukan jika sang individu tidak memiliki kontrol diri dan motivasi yang kuat untuk mengurangi berat badan.

Kurang Gerak/Olahraga

Tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka terhadap pengendalian berat tubuh. Pengeluaran energi tergantung dari dua faktor : 1) tingkat aktivitas dan olah raga secara umum; 2) angka metabolisme basal atau tingkat energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi minimal tubuh. Dari kedua faktor tersebut metabolisme basal memiliki tanggung jawab dua pertiga dari pengeluaran energi orang normal.

Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi satu pertiga pengeluaran energi seseorang dengan berat normal, tapi bagi orang yang memiliki kelebihan berat badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting. Pada saat berolahraga kalori terbakar, makin banyak berolahraga maka semakin banyak kalori yang hilang. Kalori  secara tidak langsung mempengaruhi sistem metabolisme basal. Orang yang duduk bekerja seharian akan mengalami penurunn metabolisme basal tubuhnya. Kekurangan aktifitas gerak akan menyebabkan suatu siklus yang hebat, obesitas membuat kegiatan olah raga menjadi sangat sulit dan kurang dapat dinikmati dan kurangnya olah raga secara tidak langsung akan mempengaruhi turunnya metabolisme basal tubuh orang tersebut. Jadi olah raga sangat penting dalam penurunan berat badan tidak saja karena dapat membakar kalori, melainkan juga karena dapat membantu mengatur berfungsinya metabolis normal.

Pengaruh Emosional

Sebuah pandangan populer adalah bahwa obesitas bermula dari masalah emosional yang tidak teratasi. Orang-orang gemuk haus akan cinta kasih, seperti anak-anak makanan dianggap sebagai simbol kasih sayang ibu, atau kelebihan makan adalah sebagai subtitusi untuk pengganti kepuasan lain yang tidak tercapai dalam kehidupannya.  Walaupun penjelasan demikian cocok pada beberapa kasus, namun sebagian orang yang kelebihan berat badan tidaklah lebih terganggu secara psikologis dibandingkan dengan orang yang memiliki berat badan normal. Meski banyak pendapat yang mengatakan bahwa 0rang gemuk biasanya tidak bahagia, namun sebenarnya ketidakbahagiaan /tekanan batinnya lebih diakibatkan sebagai hasil dari kegemukannya. Hal tersebut karena dalam suatu masyarakat seringkali tubuh kurus disamakan dengan kecantikan, sehingga orang gemuk cenderung malu dengan penampilannya dan kesulitannya mengendalikan diri terutama dalam hal yang berhubungan dengan perilaku makan.

Orang gemuk seringkali mengatakan bahwa mereka cenderung makan lebih banyak apa bila mereka tegang atau cemas, dan eksperimen membuktikan kebenarannya. Orang gemuk makan lebih banyak dalam suatu situasi yang sangat mencekam; orang dengan berat badan yang normal makan dalam situasi yang kurang mencekam (McKenna,1999). Dalam suatu studi yang dilakukan White (1977) pada kelompok orang dengan berat badan berlebih dan kelompok orang dengan berat badan yang kurang, dengan menyajikan kripik (makanan ringan) setelah mereka menyaksikan empat jenis film yang mengundang emosi yang berbeda, yaitu film yang tegang, ceria, merangsang gairah seksual dan sebuah ceramah yang membosankan. Pada orang gemuk didapatkan bahwa mereka lebih banyak menghabiskan kripik setelah menyaksikan film yang tegang dibanding setelah menonton film yang membosannkan. Sedangkan pada orang dengan berat badan kurang selera makan kripik tetap sama setelah menonton film yang tegang maupun film yang membosankan.

Lingkungan

Faktor lingkungan ternyata juga mempengaruhi seseorang untuk menjadi gemuk. Jika seseroang dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap gemuk adalah simbol kemakmuran dan keindahan maka orang tersebut akan cenderung untuk menjadi gemuk. Selama pandangan tersebut  tidak dipengaruhi oleh faktor eksternal maka orang yang obesitas tidak akan mengalami masalah-masalah psikologis sehubungan dengan kegemukan.

berlebih dan belum berhasil mengurangi berat badan, janganlah merasa frustrasi. Mungkin dengan mengetahui faktor-faktor penyebab kegemukan seperti tertulis diatas Anda akan menemukan penyebab mengapa berat badan Anda tidak kunjung susut. Satu hal yang paling penting untuk diingat adalah sejauh tubuh anda tidak mengidap suatu penyakit maka tidak ada yang salah dengan tubuh yang besar (gemuk). Hal lain yang juga tidak kalah penting adalah cobalah untuk berolahraga secara teratur dan menjaga agar emosi anda tetap terkendali. Oke…. Semoga bermanfaat. (jp)

Obesitas: Perempuan Lebih Fit Dibanding Laki-Laki

Laporan penelitian terbaru menyebutkan bahwa penderita obesitas perempuan memiliki tubuh yang lebih fit dibandingkan laki-laki. Hal ini disebabkan karena lelaki lebih rentan terserang diabetes atau gejala diabetes. Demikian seperti yang dilaporkan oleh para peneliti dari negeri kincir angin Belanda.
Studi ini melibatkan 56 penderita obesitas, baik laki-laki maupun perempuan yang siap untuk menjalani operasi pengurangan lemak. Dari tes kesehatan yang dilakukan ditemukan bahwa laki-laki memiliki fisik yang lebih rentan dibandingkan perempuan. Demikian menurut Journal Chest yang diterbitkan oleh American College of Chest Physicians.
Kemungkinan hal tersebut dikarenakan lemak pada penderita obesitas perempuan lebih merata dibandingkan laki-laki. Ini secara otomatis mempengaruhi pengolahan kadar karbohidrat di tubuh. Para peneliti menemukan bahwa mayoritas laki-laki memiliki gejala diabetes karena adanya kadar karbohidrat di tubuhnya yang tidak dapat ditoleransikan lagi.
“Kelebihan kadar karbohidrat akibat ketidakmampuan melakukan metabolisme kadar gula dalam karbohidrat mengakibatkan menumpuknya lemak dalam jaringan tubuh. Inilah yang mendorong seseorang terserang obesitas dan juga seringkali menurunkan daya tahan tubuh” jelas Emile Dubois, salah satu ilmuwan yang melakukan penelitian, seperti terlansir dari reuters. Ditambahkan pula kelebihan karbohidrat ini pada umumnya menyerang kaum Adam yang akan secara otomatis mendorong tubuh si penderita menjadi lemah.
Seseorang yang memiliki BMI (Body Mass Index) 25-30 masuk kategori gemuk atau kelebihan berat badan. Sedangkan yang termasuk dalam kategori obesitas adalah yang memiliki BMI di atas 30. Biasanya memiliki kecenderungan terserang penyakit diabetes, jantung, stroke, dan kanker. Jika BMI-nya di atas 40 dikategorikan sebagai obesitas abnormal.
Peneliti menemukan adanya 59% pria yang mengalami obesitas terkena diabetes atau gejala diabetes. Sedangkan hanya sebesar 35% perempuan obesitas yang mengalaminya. Penderita kadar karbohidrat tinggi biasanya mengalami sindrom metabolisme tubuh yang dapat mengarah pada tekanan darah tinggi diabetes serta kelebihan berat badan.
Perempuan yang menderita obesitas lebih rajin berolahraga untuk membakar lemaknya dibandingkan dengan laki-laki. Oleh karenanya para laki-laki yang menderita obesitas lebih rentan terkena berbagai macam penyakit. Ini terbukti dari hasil frekuensi tes kesehatan dengan melakukan olahraga bersepeda serta tes kapasitas paru-paru.
Penelitian ini juga menemukan hasil yang menyatakan bahwa kelebihan lemak di tubuh kemungkinan akan mempengaruhi kapasitas paru-paru penderita obesitas.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: