Beranda > Balita > Mencegah anak menjadi latah

Mencegah anak menjadi latah

Arahkan anak agar hanya mencontoh perbuatan yang positif saja. Jika pada perilaku negatif, segera cegah dan beri penjelasan.

Melihat temannya menangis, eh, si batita kita, kok, latah ikut menangis. Begitu juga kala ada sebayanya yang tertawa gembira, si kecil pun ketularan tertawa pula. Tak perlu bingung atau berpikir ia sudah punya sikap solidaritas yang tinggi, karena seperti diungkapkan psikolog dari Essa Consulting Group, Evi Elviati, Psi., di usia batita anak tengah memasuki fase peniruan.

Perilaku meniru menjadi penting karena dari proses belajar ini kognisinya akan berkembang semakin optimal. Itulah sebabnya, anak pun terkesan “latah” dengan senang meniru perilaku orang lain. Secara umum latah sendiri dibedakan menjadi dua. Latah terhadap kata-kata dan latah terhadap perilaku. Sementara kasus di atas adalah latah perilaku.

 

ANEKA PENYEBAB

Penyebab anak menjadi latah, ungkap Evi, bisa disebabkan berbagai faktor. Salah satunya, rasa senang yang diakibatkan oleh perilaku peniruan tersebut. Misal, saat anak meniru anak lainnya memukul-mukul meja, awalnya tanpa sadar ia melakukannya karena melihat temannya memukul-mukul meja, tapi lambat laun anak juga menemukan kesenangan dari kegiatan tersebut. Saat tangannya ikut bergerak, pukulannya mengeluarkan bunyi yang membuat anak senang dan bergembira.

Selain itu, faktor perhatian pun bisa menjadi pemicu anak menjadi latah. Entah perhatian itu berbentuk pujian, tertawaan, atau hal-hal lain yang bisa menyenangkan anak. Misal, saat anak mencoba meniru perilaku kakaknya yang suka menggaruk-garuk kepala, orang tua atau orang lain yang menyaksikannya tertawa terpingkal-pingkal atau minimal menyunggingkan senyuman. Nah, dengan tertawaan atau senyuman tadi anak merasa menjadi pusat perhatian, dan ia akan terus mempertahankan sikap peniruan tadi.

Orang-orang yang kerap dijadikan model tiruan adalah orang-orang yang dekat dengan si anak atau orang-orang yang sering bertemu dan bermain dengannya, entah itu teman bermain sebaya, saudara sepupu, orang tua, pengasuh, atau bahkan tetangganya. Anak akan mengidentifikasi, merekalah teman-temannya. “Karena intensitas pertemuan, hubungan anak-anak menjadi semakin akrab. Tak heran, jika anak itu akan meniru teman dekatnya itu, tak peduli siapa pun dia.”

Hanya saja, anak usia batita belum lagi tahu arti solidaritas sesama teman. Saat temannya menangis akibat direbut mainannya oleh sang kakak, misalnya, ia hanya refleks meniru tangisan sang teman tersebut, bukannya karena ia merasakan ketidaknyamanan yang sama.

Jika pun anak langsung memukul si pengganggu, bukan juga berarti anak sudah memiliki empati terhadap si korban, tapi lebih karena ia mendapat ketidaknyamanan akibat tindakan yang ditimbulkan oleh si kakak tadi. Dengan si kakak merebut mainan hingga sang teman menangis, maka secara otomatis si anak tidak bisa bermain-main dengan temannya lagi. Oleh karena itu anak tergerak secara refleks untuk mengusir si kakak atau memukulnya.

 

 

BAIK BURUKNYA TERGANTUNG PENIRUAN

Menurut Evi, baik buruknya anak bersikap latah terhadap sang teman tergantung apa yang ditirunya. Jika sifatnya negatif, maka orang tua harus segera menghentikan dengan memberinya penjelasan kepada anak. Sebaliknya, jika yang dicontoh adalah hal-hal positif, maka orang tua justru harus memberikan dukungan agar anak terus melakukan hal itu.

Ikut-ikutan menangis termasuk perilaku yang tak patut ditiru. Bukannya karena menangis ini melulu bersifat negatif, tapi setiap ekspresi jiwa harus ada sebab musababnya, tidak ujug-ujug dilampiaskan saat melihat anak lain melakukannya. Jadi, jelaskan pada anak, “Kenapa, kok, kamu menangis? Kamu ikut-ikutan temanmu itu, ya? Temanmu menangis karena mainannya direbut. Mainanmu, kan, masih ada. Karena itu, kamu tidak usah ikut-ikutan menangis.” Demikian juga jika si anak mendadak marah, “Kamu jangan ikut-ikutan marah seperti temanmu, ya. Temanmu marah karena diganggu oleh kakaknya. Kamu sendiri, kan, tidak diganggu.”

Manfaat yang bisa diambil dari hal ini adalah anak belajar untuk mengungkapkan atau mengenali emosinya dengan sehat. Anak akan tahu, kapan dia harus menangis, sedih atau marah, beserta penyebabnya.

Tentunya, orang tua juga jangan sekali-kali memberikan respon positif saat anak melakukan imitasi terhadap perilaku negatif teman-temannya. Respon seperti menertawakan atau memberikan senyuman akan ditanggapi anak dengan terus-menerus melakukan perbuatan imitasi tersebut. Namun, setiap larangan haruslah dilanjutkan dengan alasaan yang menjelaskan atau pengarahan. Tanpa itu, anak tak bakalan mengerti.

Sebaliknya, beri dukungan bahkan rewards bila anak meniru hal-hal positif. Misal, saat anak mencontoh temannya yang membagikan kue miliknya, orang menanggapi dengan komentar, “Kamu belajar seperti itu dari temanmu, ya? Ibu senang melihatnya, nanti Ibu kasih kue lagi, yang enak.”

 

CONTOH WAJAR

Mengarahkan anak untuk melakukan peniruan pada hal-hal yang positif saja bisa dilakukan sambil kita menunjukkan sifat dan kebiasaan baik. Bagaimanapun, anak akan melakukan imitasi terhadap orang yang paling dekat dengan dirinya, yaitu orang tua. Anak akan meniru semua sikap dan tutur kata kita, tidak peduli apakah sifat itu positif atau negatif. Jadi, berhati-hatilah terhadap sifat dan kebiasaan-kebiasaan buruk jika kita tak ingin si kecil mencontohnya. Tentunya, beri contoh yang wajar, tak perlu dibuat-buat.

Orang tua mungkin saja sibuk bekerja, tapi jangan jadikan hal itu sebagai alasan untuk tidak mengajari anak akan hal-hal positif. Mengakalinya, mintalah kepada pengasuh anak kita untuk menjelaskan hal atau kebiasaan-kebiasaan apa saja yang harus ditanamkan kepada anak, dan mana yang tidak. Jadi, meski orang tua hanya punya sedikit waktu bersama anak, si kecil akan tetap mengacu pada orang tua sebagai model imitasinya melalui si pengasuh. Bukan tak mungkin anak akan menegur teman yang dinilainya tidak sopan dengan membawa-bawa nama kita, “Lo, kok, kamu makannya dibuang-buang. Kata Bunda, itu enggak baik.”

 

IMITASI IDENTIFIKASI

Evi juga mengatakan, proses imitasi atau peniruan pada usia batita akan dilanjutkan ke proses identifikasi pada usia prasekolah. Jadi waspadalah, karena di usia ini berarti anak sudah siap menuju proses berikutnya. “Ia bukan hanya akan mengambil gaya bicara dan tingkah laku kita, tapi juga pada karakteristik kita sebagai manusia dewasa.”

Nantinya, anak tidak hanya membeo apa saja yang kita lakukan, tapi juga menjadikannya sebagai bagian dari dirinya. “Ia merasa dirinya adalah orang atau model yang ditirunya. Ia percaya, ia mampu melakukan apa saja yang dilakukan si model. Dalam kehidupan sehari-hari, ia mengambil semua yang melekat pada diri model. Ia akan meniru cara si model makan, berpakaian, gaya berbicara, dan bertingkah laku. Bahkan karakteristik, kepercayaan/keyakinan, dan nilai-nilai orang tersebut juga akan diambilnya. Itulah yang dalam psikologi dikenal sebagai proses identifikasi.”

Identifikasi merupakan proses alamiah, atau bagian dari perkembangan kepribadian setiap anak. Tentu dengan keunikan masing-masing.”

 

SUDAH BISA MEMILIH TEMAN

Meski anak usia batita belum pandai bersosialisasi, tapi mereka sudah bisa memilih teman yang cocok baginya, lo. Menurut Evi, anak akan memilih teman-teman yang dirasa bisa membuatnya nyaman saat bermain. Teman-teman, baik itu yang sebaya atau yang lebih dewasa, jika sikapnya dianggap tidak menyenangkan, seperti galak atau kerap memukul, pasti dijauhi anak.

Nah, saat bermain itulah kadang terjadi “transfer” sifat atau karakter. Anak-anak bisa meniru atau bersikap latah terhadap sikap teman-teman bermainnya. Anak yang mulanya bersifat pendiam, bisa mendadak agresif. Jika marah dia menggigit atau melempar-lempar barang, misalnya. Bisa juga terjadi sebaliknya, anak-anak yang tadinya terlihat aktif dan ceria, mendadak pendiam setelah lama bergaul dan bermain dengan anak-anak pendiam dalam jangka waktu lama.

“Karakter anak sejak batita memang sudah mulai terlihat. Ada anak tipe sulit yang menangis melulu dan ogah diatur; ada anak tipe mudah yang gampang diatur dan sifatnya pendiam; dan ada anak-anak yang memiliki sifat gabungan dari dua karakter tadi. “Karakter anak bisa berubah tergantung situasi dan kondisi, serta lingkungan yang mempengaruhinya. Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhinya adalah orang-orang yang dekat dengan si anak. “Biasanya makin lama dan banyak pengalaman, makin terbentuk karakter pribadi aslinya.”

Nah, orang tua sebagai orang yang terdekat harus berperan sebagai “penyaring”. Kalau perilaku anak ternyata sudah kelewatan, seperti suka berbicara kasar dan jorok, orang tua mesti memberikan pengarahan. Jelaskan, itu bukanlah cara yang baik dan tidak patut dicontoh. Selain itu, berilah contoh konkret cara berbicara yang sopan dan santun. Jika tidak, maka perilaku itu akan terus terbawa hingga anak beranjak dewasa dan ia akan tumbuh dengan karakter yang buruk.  

SUMBER: NAKITA

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: