Beranda > Asma > Penggunaan Obat Semasa Hamil

Penggunaan Obat Semasa Hamil

SAYA menderita asma sejak masih di sekolah dasar. Sekarang saya berumur 25 tahun dan dua tahun yang lalu saya sudah menikah. Sejak menikah serangan asma saya mulai jarang. Ini berkat pemahaman saya mengenai penyakit asma dan saya berobat secara teratur. Dokter telah memberi penjelasan yang cukup lengkap pada saya mengenai asma sehingga saya memahami cara mencegah serangan dan menggunakan obat pada waktunya.

Selama dua tahun ini saya memakai inflamid hirup setiap hari dan ventolin semprot bila ada gejala. Dengan itu serangan asma menjadi jarang. Bila kena flu serangan asma timbul agak berat sehingga saya menggunakan teofilin, bahkan kadang-kadang steroid.

Kami merencanakan untuk mempunyai anak dalam waktu dekat ini. Namun, suami saya agak kuatir dengan keadaan asma saya. Meski serangan asma sudah jarang, namun kami kuatir sewaktu hamil serangan asma saya akan bertambah sering sehingga saya terpaksa menggunakan obat. Kami sering membaca bahwa penggunaan obat dapat mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan, karena itu kami membutuhkan informasi obat apa yang aman digunakan selama hamil.

Apakah penggunaan obat asma baik yang diminum maupun yang dihirup berbahaya bagi janin? Bagaimana dengan vitamin dan antibiotika, apakah juga mempengaruhi janin? Ini saya tanyakan karena bila saya flu obat apa yang aman. Selain itu, saya juga ingin mengetahui apakah penderita asma yang hamil dapat melahirkan secara biasa tidak dengan seksio? Maklumlah saya dan suami hanya pegawai negeri dengan penghasilan yang sederhana.

Atas perhatian dokter saya ucapkan terima kasih.

Sumiati, Bekasi.

MENGENAI pengobatan asma pada kehamilan pernah dibahas pada rubrik ini. Namun demikian, ada baiknya kita ulang secara ringkas. Pengobatan asma pada kehamilan selain untuk menjaga kesehatan ibu juga bertujuan menjaga kesehatan janin.

Sekitar sepertiga penderita asma yang hamil serangan asmanya berkurang, sepertiga lagi bertambah, dan sisanya sama dengan keadaan pada waktu tidak hamil. Bila asma tak diobati maka risiko serangan asma pada ibu meningkat. Karena itu asma perlu tetap diobati, hanya dalam memilih obat dipertimbangkan agar obat tersebut bermanfaat untuk ibu, tapi tidak menimbulkan pengaruh buruk pada janin.

Badan Pengawasan Obat Amerika Serikat membagi obat dalam kelompok berdasarkan keamanan pada kehamilan dalam kelompok A, B, C, dan D. Sekarang pembagian ini sedang disempurnakan. Beberapa obat yang perlu dihindari penggunaannya selama kehamilan karena ditakutkan menimbulkan kelainan pada janin adalah: talidomid, karbemazin, siklofosfamid, hormon androgen, dietilstilbesterol, litium, metimazol, metrotreksat, fenitoin, tetrasiklin, dan alkohol.

Mereka yang ingin mengetahui lebih banyak tentang penggunaan obat pada kehamilan dapat membuka situs http://www.weber.u. washington.edu atau http://www.REPROTOX.org. Meski suatu obat dinyatakan aman biasanya dokter berusaha menghindari penggunaan obat jika indikasinya tidak kuat terutama pada trimester pertama kehamilan.

Sebaliknya, beberapa penyakit yang diderita sebelum hamil pengobatannya harus diteruskan karena bila dihentikan penyakit akan bertambah berat dan mempengaruhi keadaan kesehatan ibu. Bila kesehatan ibu terganggu tentu juga akan mempengaruhi kesehatan janin. Penyakit tersebut antara lain: asma, kanker, gangguan irama jantung, kencing manis, infeksi, penyakit autoimun, dan lain lain.

Dengan demikian, dalam keadaan hamil tidak berarti semua obat harus dihentikan. Kita harus mempertimbangkan manfaat dan risiko yang mungkin timbul akibat pemakaian obat tersebut. Bila manfaatnya lebih besar maka dokter akan memberikan obat, sudah tentu dengan memilih obat yang paling aman untuk ibu dan janin.

Obat asma dapat diteruskan penggunaannya pada kehamilan. Obat asma dalam bentuk hirupan jauh lebih aman dibandingkan dengan suntikan atau tablet. Namun demikian pada serangan asma akut bila perlu jangan ragu untuk menggunakan steroid baik berupa suntikan maupun tablet. Biasanya dipilih golongan steroid yang tidak melewati plasenta seperti metilprednisolon.

Meski ada beberapa antibiotika yang perlu dihindari pada kehamilan pada umumnya antibiotika dan vitamin cukup aman diberikan pada wanita hamil. Jadi obat antibiotika boleh saja digunakan selama hamil bila ada indikasi.

Penderita asma yang hamil dapat melahirkan secara biasa tidak harus melalui seksio. Untuk melakukan seksio ada indikasi tertentu, misalnya, pinggul sempit atau kelainan pada letak plasenta.

Mudah-mudahan dengan informasi ini Anda lebih tenang dalam mempersiapkan kehamilan Anda. Saya doakan agar Anda sekeluarga dalam keadaan sehat selalu. *

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: