Beranda > Asma > Gangguan Seks Pada Penderita Asma

Gangguan Seks Pada Penderita Asma

Jakarta, KCM

  • Nabila, perempuan cantik berusia 36 tahun, memiliki perkawinan bahagia, dengan seorang anak dan suami yang mencintainya. Tapi, ada satu hal yang mengganjal dalam hal seks.

Meskipun sudah enam tahun menikah, hubungan dengan suaminya masih berkobar-kobar sama seperti ketika mereka masih berpacaran dan baru menikah. Masalahnya adalah, Nabila menderita asma. Ketika energinya meningkat dan ia berada pada puncak gairah seksualnya, paru-paru Nabila kadang-kadang lemah, napasnya menjadi pendek dan tersengal-sengal, dada terasa kencang, Ia merasa seolah-olah sedang dicekik. Dan gairahnya lenyap seketika. Ia menunda kemesraan dengan suaminya, bergeser ke tepi tempat tidur, kemudian batuk-batuk dan berdahak –not very romantic, sungguh tidak romatis. “Keadaan ini sangat menjengkelkan dan memalukan,” katanya mengeluh.

Selama ini, para dokter yang mengobati pasien yang menderita asma –penyumbatan jalan napas—cenderung memfokuskan pengobatan pada penyakit asma itu sendiri, misalnya bagaimana mengurangi keluhan sesak napas atau mengatasi napas penderita yang berbunyi mencuit-cuit seperti peluit kereta api. Dokter jarang bertanya bagaimana kehidupan seksual pasiennya seperti Nabila.

Hasil penelitian belum lama ini menganjurkan para dokter lebih bersikap bijaksana untuk mulai menanyakan pada pasien asma bagaimana kehidupan seks mereka. Sebab berdasarkan survei, hampir dua pertiga dari 353 orang penderita asma mengatakan aktivitas seksual mereka terganggu oleh penyakitnya. Bahkan setiap satu diantara lima penderita asma mengaku terpaksa harus menahan gairah seksualnya.

“Keterbatasan serius dalam menjalankan fungsi seksual mengindikasikan bahwa asma tidak sepenuhnya bisa dikontrol dengan baik,” kata Ilan Meyer, PhD, asisten profesor di Columbia University’s Joseph L. Mailman School of Public Health, yang memimpin penelitian tersebut.

Meyer dan tim-nya dari the university’s Harlem Lung Center menggali informasi dari orang-orang yang menderita keluhan sesak napas hebat dan sering dibawa ke Emergency Room (ER) atau ruang unit gawat darurat (UGD). Masing-masing pastisipan ditanyai secara mendetil dan lengkap bagaimana kualitas hidup mereka. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan tiga minggu setelah mereka dirawat di UGD.

Hasilnya sungguh dramatik. Sekitar 80 persen penderita asma mengaku tetap melanjutkan kehidupan seksualnya setelah serangan asma, dan 58 persen diantaranya mengatakan mendapatkan serangan ketika mereka tengah melakukan aktivitas seksual di tempat tidur. Meyer dan tim-nya juga menemukan bahwa orang-orang yang terganggu kehidupan seks-nya akibat serangan asma ini cenderung merasa depresi.

Faktor-faktor pemicu di tempat tidur..!

  • Meningkatnya aktivitas fisik ketika berhubungan seks, bisa jadi mengakibatkan jalan napas meradang, mengerut bahkan menutup sama sekali. Keluhan sesak napas kronis, yang berlangsung terus menerus merupakan alasan para penderita asma menghindari aktivitas seksual.

Yang sebaiknya diperhatikan barangkali tempat para penderita ini melakukan aktivitas seks-nya yang umumnya terjadi di tempat tidur. Bisa jadi tempat ini penuh dengan faktor-faktor pemicu serangan asma pada sebagian besar orang. ” Mungkin saja, sprei, alas tempat tidur, selimut atau tungau di tempat tidur,” ujar Meyer. “Ada pula yang mengatakan lateks bisa memicu serangan asma.”

Lateks selain berkaitan dengan tempat tidur juga berhubungan dengan kondom. Sejumlah studi kesehatan menunjukkan ada sebagian kecil orang yang memiliki reaksi alergi pada sarung tangan lateks, membuat kulit gantal-gatal dan berbintik-bintik merah. Dan pada orang lain menimbulkan gangguan pernapasan. Namun, penelitian secara formal masih kurang, sehingga sulit untuk memastikan.

Apa yang harus dilakukan..?

  • Meyers menyarankan para penderita asma bicara terus terang pada dokter segala sesuatu yang mereka rasakan tentang kehidupan seks mereka, meskipun dokter tidak menanyakan. “Itu mungkin agak menyakitkan dan memalukan,” katanya. “Kita tidak bisa mengatakan asma adalah penyakit yang bisa dikontrol dengan baik, sebab kenyataannya itu sangat berpengaruh kuat terhadap kehidupan seks penderitanya.”

Apabila kehidupan seks Anda terganggu, bronchodilators mungkin bisa digunakan, dan ini atas resep dokter. Obat ini membuat otot dan urat-urat dalam paru-paru mengendur sehingga meningkatkan peredaran udara. Penderita asma bisa mengonsumsinya dalam bentuk pil, cairan, injeksi, bisa pula dihirup, dan pengaruh optimal-nya bisa dirasakan dalam waktu satu jam.

Sayangnya, penggunaan bronchodilators secara berlebihan sangat berbahaya. Jadi sebaiknya pastikan kepada dokter tentang dosis optimal Anda dan kapan Anda bisa mengonsumsinya. Obat yang dihirup mungkin diresepkan dokter untuk penggunaan sehari-hari, mengontrol serangan asma yang bisa terjadi kapan saja.

Jika masalahnya adalah lingkungan tempat tinggal, maka perantara yang memicu serangan asma harus diidentifikasi. Apakah itu sprei, selimut, atau bantal, guling? Jika benar, beralihlah pada bahan-bahan atau alat-alat yang tidak menimbulkan alergi.

Beberapa tips praktis..!

Disamping memperhatikan segi kesehatan, lingkungan dan faktor-faktor pemicu serangan asma, ada faktor lain yang harus diperhatikan untuk mempertahankan aktivitas seksual Anda.

  • Biarkan pasangan Anda ikut berperan, kata Paul Selecky, MD, clinical professor of medicine di UCLA. Ia lah pelopor gerakan untuk membantu para penderita asma menikmati kehidupan seks yang memuaskan. Untuk menjadi aktif secara seksual, Selecky menyarankan pada pasiennya untuk bersikap tidak terlalu aktif ketika berhubungan seks. Mungkin malah bersikap agak pasif sajalah. Pokoknya, segala sesuatu yang bisa mengakibatkan sesak napas, atau napas tersengal-sengal sebaiknya diminimalisir.
  • Terbukalah untuk berbagai cara, ketika berhubungan seks. “Orang biasanya terfokus pada aktivitas di seputar genital atau alat kelamin ketika berhubungan seks. Tetapi ada sejumlah cara untuk memuaskan satu sama lain disamping penis di vagina,” ujar Selecky. Kurangi kegiatan seks yang “hebat” dan penuh semangat, Anda bisa melakukan sesuatu yang lebih menyenangkan seperti mencium, memeluk menggunakan tangan, mulut, hidung, siku untuk merasakan kenikmatan dan kepuasan.
  • Ubah waktunya, ketika Anda ingin berhubungan seks. Cobalah waktu pagi-pagi sekali atau ketika hari masih siang (sebelum malam menjelang), pilih diantar kedua kesempatan tersebut yang sesuai dengan jadual kegiatan Anda. Inilah saat-saat dimana paru-paru Anda berfungsi maksimal. “Biasanya, pengaruh obat mulai luntur atau hilang menjelang pagi, dan di malam hari, Anda secara fisik sudah lelah.”
  • Perhatikan posisi. Hindari segala sesuatu yang dapat meningkatkan tekanan pada paru-paru. Ini artinya Anda harus meperhatikan posisi Anda ketika berhubungan seks. Untuk perempuan penderita asma, posisi di bawah laki-laki selama intercourse, bukan pilihan yang baik.

Nabila, telah hidup dan mampu menyesuaikan diri dengan penyakit asma yang dideritanya selama enam tahun. Tentu saja, tidak mudah mengatasi semua masalah yang timbul, tetapi dia berhasil. Yang penting: tidak merokok, minum anggur merah (red wine), dua hal ini dapat memicu serangan asma. Selain itu, secara teratur menggunakan pek flow meter untuk mengukur kapasitas udara pada paru-paru. Hal ini memungkinkan Anda bisa memprediksi serangan, satu atau dua hari sebelumnya.

Suaminya juga mendukung dan memastikan Nabila tetap berada dalam lingkungan yang sehat dan memiliki kehidupan seks yang baik. Untuk ini, tidak hanya dibutuhkan kesabaran dan pengertian tetapi juga perubahan gaya hidup. Franky, suami Nabila berhenti merokok di mobil, di dalam rumah, dan dimana saja ketika berdekatan dengan isterinya. Hmm…that’s better for his health, as well as hers and their child’s..!

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: