Beranda > Asma > Asma dan Faktor Genetik Garis Ibu

Asma dan Faktor Genetik Garis Ibu

ASMA di sini buka nama orang, tetapi merupakan sebutan untuk penyakit yang pada musim hujan seperti sekarang ini umumnya kerap muncul. Penderita asma yang merasa cukup lama tak kumat penyakitnya belakangan ini merasa perlu lebih waspada.

KETIKA penyakit asma seseorang kambuh, maka yang menderita biasanya tak hanya si penderita sendiri, tetapi juga orang- orang terdekat atau lingkungan keluarganya. Bunyi ngik-ngik yang menyertai setiap kali pengidap asma mengambil napas, atau tarikan napas yang tersengal-sengal, sering kali membuat orang lain khawatir.

Padahal asma, seperti ditulis dokter Heru Sundaru dalam Asma: Apa dan Bagaimana Pengobatannya terbitan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, merupakan penyakit yang telah dikenal lebih dari 2.000 tahun lalu dan sudah diketahui oleh Hippocrates. Kata “ashma” berasal dari bahasa Yunani yang artinya sukar bernapas.

Asma memang bukan penyakit menular yang perlu ditakutkan, namun seperti kata Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI, asma merupakan penyakit yang cukup kuat faktor genetiknya, terutama dari garis ibu. Oleh karena itulah, dia mengingatkan, seorang ibu yang mengidap asma pada saat hamil sebaiknya mulai melakukan langkah-langkah antisipasi agar kemungkinan anaknya mengidap asma bisa diperkecil.

Salah satu caranya, pada saat hamil si ibu bukan hanya tidak merokok, tetapi sebaiknya juga menghindari asap rokok. Ketika bayinya sudah lahir, sebaiknya diberi air susu ibu (ASI) eksklusif selama empat sampai enam bulan. Bayi yang baru lahir jangan diberi protein susu asing karena sebenarnya protein ini belum dapat diserap secara optimal oleh pencernaan bayi.

Penyakit asma yang tidak ditangani dengan baik, bila sampai berkelanjutan, bisa memengaruhi produktivitas penderitanya. Ini bukan hanya sebab saat penyakitnya kambuh penderita relatif tidak bisa bekerja atau belajar dengan baik, namun mereka juga harus mengeluarkan sejumlah uang untuk pengobatannya.

SEORANG ibu penderita asma menuturkan, ketika usia kehamilannya mencapai sekitar enam bulan, penyakit asmanya kambuh. Dia merasa susah bernapas, hingga suaminya lalu memutuskan membawanya ke rumah sakit. “Sempat semalam saya menginap di rumah sakit. Tetapi, besoknya saya diperbolehkan pulang dengan segudang syarat dari dokter,” ujar si ibu, Enny (44), sambil tertawa.

Kini dia bisa menceritakan pengalamannya itu sambil merasa geli. Namun, menurut dia, saat itu dia dan keluarganya amat khawatir. Ibunya bahkan meminta dokter yang merawat kehamilan Enny untuk menyediakan segala peralatan dan pengobatan saat dia melahirkan, sebagai tindakan jaga-jaga kalau penyakit asmanya kambuh.

“Waktu saat melahirkan tiba, semua orang tegang. Tetapi, entah mengapa saya malah merasa santai. Segala tabung oksigen sudah disiapkan. Eh, ternyata pas melahirkan sampai proses persalinan selesai, saya tidak merasa sesak napas,” kata ibu dua anak yang mengaku tak tahu dari mana dia bisa mendapatkan asma sebab orangtuanya tidak ada yang menderita asma.

Pertama kali dia merasa susah bernapas ketika duduk di bangku SMA. Ketika itu rumahnya di bilangan Jakarta Barat kebanjiran. Saat orangtuanya sibuk memindah-mindahkan barang, Enny merasa sesak napas. “Belakangan saya tahu asma itu muncul karena waktu itu kondisi rumah lembab, banjir juga membawa kotoran,” katanya.

Setelah dokter memvonisnya menderita asma, Enny menjadi lebih berhati-hati, terutama saat dia sudah mulai pilek dan batuk-batuk. “Kalau orang lain sakit batuk pilek bisa sembuh paling lama tiga hari, saya bisa seminggu karena pasti dibarengi dengan asma yang kambuh,” kata Enny yang mengaku serba salah kalau asmanya kambuh.

“Mau duduk salah, mau tidur juga enggak enak. Kalau sudah begini saya mesti tidur tengkurap, biar bisa bernapas lega,” ujar ibu yang merasa belakangan asmanya jarang kambuh setelah dia memilih membersihkan rumah dengan lap basah agar debunya tak beterbangan, juga tak mengonsumsi es atau minuman dingin, soda, dan makanan yang digoreng.

“Selain kontrol ke dokter, saya juga menjalani pijat refleksi setidaknya sekali dalam seminggu. Ya, buat jaga-jaga saja, biar badan fit supaya asmanya enggak muncul,” kata Enny yang juga mengonsumsi kapsul minyak ikan dan vitamin C ini.

Sesuai dengan anjuran dokter, Enny memberi ASI eksklusif untuk kedua anaknya, dan sampai lepas masa balita kedua anaknya relatif sehat. “Baru sewaktu anak sulung saya kelas lima SD, ketahuan kalau dia menderita asma juga,” kata Enny yang memilih “mengungsi” sementara ke hotel bila banjir, untuk menghindari kemungkinan penyakit asma di dirinya dan anak sulungnya kambuh.

KUATNYA faktor genetik, terutama dari garis ibu, pada penyakit asma juga dialami Kanya (15). Ibunya dan nenek dari pihak ibu menderita asma. Titin, ibunda Kanya, menuturkan, gejala anak perempuannya menderita asma muncul ketika anaknya berusia sekitar 1,5 tahun.

“Anak-anak balita kan biasanya gampang kena batuk-pilek, Kanya juga begitu. Tetapi, kalau dibandingkan dengan anak-anak lain seumurnya dulu, dia lebih sering sakit, dan kalau sudah begitu pasti ada bunyi ngik-ngik. Saya langsung tahu kalau dia asma juga,” cerita Titin.

Berdasarkan pengalaman, Titin tahu bahwa pada musim hujan seperti sekarang ini, di mana udara cenderung terasa lebih lembab, kemungkinan asma kambuh relatif lebih besar. “Kanya pernah sampai dirawat di rumah sakit selama tiga hari. Itu ketika sesak napasnya enggak berkurang juga mesti sudah dikasih obat. Waktu itu dia berusia sekitar enam-tujuh tahun,” kata Titin yang ke mana-mana juga membawa obat hirup asmanya.

Kalau asmanya kumat, biasanya Kanya hanya bisa menelan makanan yang cenderung cair, seperti bubur atau sereal. Ketika Kanya berusia sekitar 9 tahun, orangtuanya mengharuskan berenang. Menurut Titin, setelah rajin berenang, penyakit asma Kanya menjadi jarang kambuh.

Meskipun setelah berusia sekitar 12 tahun relatif penyakit asma Kanya jarang kambuh, Titin tetap mewajibkan anaknya membawa obat hirup asma ke mana pun dia pergi. Entah karena pengaruh cuaca atau sebab polusi udara serta kegiatan Kanya yang makin beragam, belakangan asmanya kambuh.

“Sekarang ini kalau asmanya kumat dan obat tidak bisa membantu, dia langsung saya bawa ke dokter dan harus disuntik. Kalau obatnya tidak langsung disuntikan, dia enggak bisa sekolah sampai tiga hari. Tetapi, dengan suntikan biasanya sesak napasnya lebih cepat hilang,” kata Titin yang mengamati bahwa asma biasanya kambuh pada tengah malam dan semakin berat menjelang waktu subuh.

JULIANA Josepha, dokter dari Klinik Asma dan Alergi dr Indrajana, Jakarta Pusat, mengatakan, asma merupakan penyakit yang tidak dapat sembuh, namun bisa dikontrol dan diobati. Ia mengingatkan, sebaiknya penderita asma menghindari faktor-faktor pencetus penyakitnya, seperti debu rumah yang sebenarnya merupakan kotoran atau tinja dari tungau-tungau (Dermatophagoides pteronyssinus).

Tungau-tungau ini umumnya gemar hidup di tempat tidur, khususnya kapuk dan di tempat yang lembab. Mereka memakan sisik kulit manusia yang terjatuh di tempat tidur. Setiap orang rata-rata menjatuhkan 0,5-1 gram sisik yang cukup untuk makan ratusan tungau. Pada satu gram debu rumah diperkirakan mengandung 5.000 tungau yang ukurannya amat kecil dan tidak dapat dibedakan dengan butiran debu oleh mata telanjang.

“Sebenarnya alergen (penyebab alergi) berupa protein dari tinja tungau-tungau. Butiran tinja itu sangat mudah terhirup hidung,” kata Juliana. Butiran kotoran tungau yang terhirup itu bisa menimbulkan reaksi alergi yang mengarah ke asma. Pipa saluran penderita asma sangat sensitif terhadap alergen tersebut. Gejala serangan asma umumnya berupa batuk, sesak napas, dan diikuti dengan bunyi mengi (bunyi tiup sewaktu mengembuskan napas).

Menurut dia, untuk mengetahui apa saja yang menjadi alergennya, penderita asma sebaiknya mengikuti tes alergi dengan metode skin prick test, di mana sejumlah kecil alergen disuntikkan di bawah kulit. Tes ini tidak menimbulkan rasa sakit yang menyiksa. Berdasarkan hasil tes alergi tersebut, bisa diterapkan terapi kepada penderita asma.

“Imunoterapi itu pada prinsipnya hampir sama dengan vaksinasi, membuat pengidap asma menjadi tidak bereaksi berlebihan terhadap alergennya. Efektivitasnya mengurangi gejala asma bisa sampai di atas 80 persen,” kata Juliana yang klinik tempatnya praktik bekerja sama dengan Allergie Centrum Amsterdam.

Sementara Samsuridjal lebih menekankan pada kemungkinan menekan asma sedini mungkin. Misalnya, jika pada usia 1-2 tahun anak menderita radang kulit karena alergi, dan dia merupakan anak dari ibu yang mengidap asma, sebaiknya anak itu segera mendapatkan intervensi medis untuk mencegah asma.

“Sebab, gejala radang kulit karena alergi tersebut merupakan perjalanan penyakit alergi yang nantinya bisa memunculkan asma. Asma itu sendiri pencetusnya juga alergi,” ujar Samsuridjal.

Ia mengingatkan agar orangtua yang anaknya mengidap asma tidak memperlakukan anak itu dengan “istimewa”. Biarkan anak tetap beraktivitas normal seperti anak-anak sehat lainnya,” ujarnya. Keluarga memberi dukungan dengan menyediakan lingkungan yang sebisa mungkin tidak berpotensi menjadi pencetus kekambuhan asma.

“Lingkungan rumah jangan lembab, cukup ventilasi, cukup mendapat sinar matahari. Kamar tidur pengidap asma harus mendapat perhatian khusus, jangan berisi terlalu banyak barang yang berpotensi menjadi penangkap debu. Jangan beri mainan boneka berbulu untuk anak asma,” tutur Samsuridjal.

Di rumah pengidap asma sebaiknya tidak ada karpet, dan selimut yang digunakan harus yang mudah dicuci dan tak berbulu. Sprei kasur diganti setidaknya dua kali dalam seminggu. “Di kamar seorang pengidap asma juga jangan banyak buku, apalagi buku-buku tua. Kasur yang digunakan sebaiknya tak terbuat dari kapuk, tetapi busa atau lateks agar tidak menjadi sarang tungau,” kata Juliana menambahkan.

Memelihara hewan peliharaan, seperti anjing dan kucing, tidak dianjurkan. Asap rokok, semprotan nyamuk, uap cat atau uap zat kimia juga sebaiknya dihindari. Jika salah satu anggota keluarga mengidap asma, menurut Samsuridjal, sebaiknya penghuni lain rumah itu mau menghentikan kebiasaannya merokok.

Agar tidak kerap kambuh, pengidap asma harus menjalani gaya hidup sehat, yaitu mengonsumsi makanan bergizi, banyak minum, istirahat cukup, tidak beraktivitas hingga larut malam, dan berolahraga teratur. Pilihan olahraga bagi pengidap asma adalah berenang dan olah napas.

Ketika asma kambuh, biasanya orang sekelilingnya amat khawatir melihat penderita yang wajahnya menjadi pias, bahkan cenderung biru. “Beberapa teman yang tahu saya asma menganjurkan berbagai pengobatan alternatif. Ada yang bilang supaya asmanya hilang, makan cicak, hati onta, anak tikus, atau daging kelelawar. Saya sendiri enggak pernah mencoba, enggak tegalah,” ucap Enny.

Mengenai mitos-mitos seperti yang disebutkan Enny, menurut Samsuridjal, hal itu muncul karena keluarga maupun pengidap asma merasa jenuh dengan upaya pengobatan rutin yang membutuhkan kesabaran dan disiplin. “Sejauh ini tidak ada pembuktian yang menyebutkan bahwa hati onta dan sebagainya itu bisa menyembuhkan asma,” ujarnya meyakinkan. (CP/SF)

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: