Beranda > Asma > Apa yang Perlu Diketahui tentang Asma

Apa yang Perlu Diketahui tentang Asma

SETIAP awal Mei dalam beberapa tahun terakhir telah dicanangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) maupun Global Initiative for Asthma (GINA) sebagai World Asthma Day. Tahun ini GINA memilih tema “The Unmet Needs of Asthma” agar para penderita asma memperoleh perhatian dan pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Berbagai negara memperingati Hari Asma Sedunia dengan berbagai cara, tidak terkecuali Indonesia. Besar masalah asma dapat diperlihatkan dari data berikut ini. Dalam 30 tahun terakhir terjadi peningkatan prevalensi (kekerapan penyakit) asma terutama di negara-negara maju.

Kenaikan prevalensi asma di Asia, seperti Singapura, Taiwan, Jepang, atau Korea Selatan, juga mencolok. Di Indonesia, penelitian pada anak sekolah usia 13-14 tahun dengan menggunakan kuesioner ISAAC (International Study on Asthma and Allergy in Children) tahun 1995 menunjukkan, prevalensi asma masih 2,1%, yang meningkat tahun 2003 menjadi 5,2%. Kenaikan ini tentu saja perlu upaya pencegahan agar prevalensi asma tetap rendah. Tidak tinggi seperti di Inggris atau di Australia yang mencapai 20-30%.

Asma menimbulkan gangguan kualitas hidup karena gejala yang ditimbulkannya baik berupa sesak napas, batuk, maupun mengi. Pasien jadi kurang tidur atau terganggu aktivitas sehari-harinya. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan. Meskipun jarang, asma bisa memicu kematian.

Maka WHO bersama National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) Amerika Serikat mengoordinasikan pertemuan dengan para pakar asma seluruh dunia untuk membuat strategi penanggulangan asma yang terangkum dalam buku panduan GINA. Sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan, panduan tersebut telah beberapa kali direvisi.

Meski panduan tersebut telah tersebar luas dan berbagai pertemuan ilmiah sering diselenggarakan, belum semua dokter memberikan pengobatan asma yang memadai. Laporan dari satu penelitian di Amerika Serikat ternyata hanya 60% dokter spesialis paru dan alergi yang memahami panduan dengan baik, sedangkan dokter lain 20-40%. Tidak mengherankan bila pengobatan asma belum seperti yang diharapkan. Di lapangan masih banyak pemakaian obat antiasma yang tidak pada tempatnya, dan tingginya kunjungan pasien ke unit gawat darurat, perawatan inap, bahkan perawatan intensif.

Suatu laporan dari delapan negara Asia-Pasifik yang dilaporkan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology tahun 2003 menunjukkan, asma mengganggu kualitas hidup, seperti gejala-gejala batuk, termasuk batuk malam dalam sebulan terakhir pada 44-51% dari 3.207 kasus yang diteliti, bahkan 28,3% penderita mengaku terganggu tidurnya paling tidak sekali dalam seminggu.

Ada 43,6% penderita yang mengaku dalam setahun terakhir menggunakan fasilitas gawat darurat, perawatan inap, atau kunjungan darurat lain ke dokter. Dampak asma terhadap kualitas hidup juga ditunjukkan dari laporan tersebut, seperti keterbatasan dalam berekreasi atau olahraga 52,7%, aktivitas fisik 44,1%, pemilihan karier 37,9%, aktivitas sosial 38%, cara hidup 37,1%, dan pekerjaan rumah tangga 32,6%. Absen dari sekolah maupun pekerjaan dalam 12 bulan terakhir dialami oleh 36,5% anak dan 26,5% orang dewasa.

Penyebab asma

Seperti halnya penyakit lain, pengobatan asma ditujukan untuk menghilangkan gejala dan menyingkirkan penyebab agar penyakit tidak kambuh lagi. Sayang penyebab asma belum diketahui sehingga pengobatan asma sampai sejauh ini baru pada tahap mengendalikan gejala.

Maka para peneliti lebih fokus pada mencari faktor risiko yang berperan terhadap terjadinya asma. Pada asma banyak sekali faktor risiko yang diduga ikut berperan, tetapi umumnya digolongkan menjadi faktor genetik (keturunan) dan lingkungan.

Dalam praktik sering dihubungkan adanya faktor riwayat asma dalam keluarga dengan terjadinya asma. Banyak penderita asma merasa heran bahwa di keluarganya tidak ada yang menderita asma.

Dari suatu penelitian yang baru-baru ini dilakukan di Indonesia, hanya 30% penderita asma yang keluarganya menderita asma. Faktor ibu ternyata lebih kuat menurunkan asma dibandingkan dengan bapak. Sebagian besar tidak diketahui menderita asma karena faktor genetik itu tidak sampai menimbulkan gejala asma atau bermanifestasi jadi penyakit alergi lain.

Sejauh ini belum diketahui faktor gen mana yang menyebabkan asma. Banyak sekali gen yang ikut berperan dalam terjadinya asma (polygen). Pentingnya faktor genetik pada asma juga ditunjukkan pada penelitian asma di Indonesia itu, bahwa ternyata orangtua asma berkemungkinan 8-16 kali menurunkan asma dibandingkan dengan orangtua yang tidak asma, terlebih lagi bila si anak alergi terhadap tungau debu rumah.

Meskipun faktor genetik dianggap penting dalam terjadinya asma, tidak dapat diterangkan mengapa terjadi kenaikan prevalensi asma di banyak negara dalam waktu yang relatif singkat. Karena itu, peran faktor lingkungan dianggap lebih penting.

Penelitian Von Mutius dkk di Jerman Barat (sebelum bersatu dengan Jerman Timur) menunjukkan prevalensi asma di Jerman Barat 5,8% lebih tinggi daripada Jerman Timur yang 3,9%. Padahal, secara genetik keduanya sama.

Demikian pula di Asia. Leung dkk melaporkan penelitian asma pada etnis China. Ternyata prevalensi asma di Hongkong paling tinggi (11,6%) dibandingkan dengan Kota Kinibalu di Malaysia (8,2%) atau San Bu (1,9%) di daratan China.

Etnis China yang lahir di Australia mempunyai prevalensi asma lebih tinggi (24%) dibandingkan dengan mereka yang di Hongkong atau daratan China. Jadi, meskipun faktor genetik penting dalam terjadinya asma, faktor lingkungan lebih penting lagi.

Ribuan penelitian menyangkut faktor lingkungan masuk dalam hipotesis terjadinya asma. Mulai dari imunisasi yang semula diduga ikut berperan dalam terjadinya asma (dibantah dalam laporan terakhir) sampai pada hipotesis yang menyatakan infeksi semasa awal kehidupan justru mengurangi terjadinya asma, sehingga negara-negara miskin mempunyai prevalensi asma lebih rendah dibandingkan dengan negara maju yang jarang terpajan infeksi. Pendapat ini melahirkan hipotesis higiene.

Peneliti Inggris, Strachan, mengemukakan hipotesis ini pada British Medical Journal tahun 1989 yang menyatakan bahwa kurangnya pemajanan oleh infeksi pada awal kehidupan akan menyebabkan terjadinya penyakit alergi atau asma di negara-negara maju yang masyarakatnya sudah hidup bersih.

Hipotesis tersebut berkembang, yang secara sederhana dijelaskan demikian. Dalam tubuh manusia ada sel limfosit (darah putih) yang disebut Th1 (T helper 1) yang berkaitan dengan imunitas atau kekebalan dan sel Th2 yang berkaitan dengan penyakit alergi.

Kedua sel dalam menjalankan fungsinya mengeluarkan sitokin-sitokin, yaitu sejenis glikoprotein atau zat perantara yang akan memicu fungsi sel lain. Dalam keadaan normal terdapat keseimbangan antara sel Th1 dan Th2, tetapi pada penyakit alergi sel Th2 lebih aktif dari Th1. Pada asma atau penyakit alergi, fungsi sel Th2 berlebihan akibat berbagai faktor.

Namun, kini hipotesis tersebut mulai disanggah. Pemakaian antibiotik pada bayi atau anak kecil yang dulu dianggap dapat menyebabkan alergi atau asma, misalnya, dibantah oleh penelitian terbaru oleh Celedon dkk yang dipublikasikan pada majalah Clinical Experimental Allergy tahun 2004.

Berbagai faktor yang diduga ikut ambil bagian dalam terjadinya asma antara lain diet, tinggal di daerah urban, jumlah saudara kandung, polusi udara, asap rokok, sampai faktor ekonomi. Peran alergen dan polusi udara barangkali yang paling perlu dikemukakan di sini, baik untuk kepentingan masyarakat maupun pemerintah.

Alergen

Alergen adalah zat di lingkungan yang pada orang sensitif dapat menimbulkan gejala alergi atau asma. Pada asma, alergen yang dapat memicu adalah alergen hirup, seperti tungau debu rumah, kecoak, serta serpih kulit binatang seperti anjing dan kucing. Pada penelitian di Jakarta, 77% penderita asma anak bereaksi alergi terhadap tungau debu rumah, sementara kecoak 44%. Sedangkan serpih kulit kucing dan anjing ternyata hanya menunjukkan reaksi alergi 7% dan 4%.

Bila faktor tungau debu rumah dapat dihilangkan, maka prevalensi asma di Jakarta sebesar 7,5% dapat diturunkan jadi 71%. Upaya ini tidak mudah karena tungau debu rumah terdapat di mana-mana dan tahan terhadap panas. Meski demikian, upaya menghindari tungau debu rumah harus tetap dilakukan.

Kalau peran polusi udara sebagai pemicu asma masih kontroversi. Sebagian besar peneliti tidak mendukung polusi udara sebagai penyebab asma. Hal ini terbukti dari penelitian dari beberapa negara maju maupun negara berkembang.

Jerman Timur yang sebelum bersatu dengan Jerman Barat mempunyai industri dengan polusi udara tinggi, prevalensi asmanya lebih rendah (3,9%) dibandingkan dengan Jerman Barat (5,8%). Demikian pula negara barat seperti Australia, Selandia Baru yang polusi udaranya rendah mempunyai prevalensi asma tinggi (20-30%).

Sebaliknya, di Afrika prevalensi asma lebih tinggi di daerah urban dibandingkan dengan daerah rural.

Seperti halnya laporan di suatu daerah di Perancis yang kadar ozonnya tinggi di daerah perkotaan ternyata meningkatkan prevalensi asma. Ozon merupakan hasil dari reaksi fotokimia yang melibatkan radiasi ultraviolet (cahaya matahari) pada NO2 dan hidrokarbon yang dihasilkan emisi kendaraan.

Bagaimana dengan Indonesia? Penelitian penulis yang dilakukan di Jakarta dan Subang secara serentak menunjukkan kadar polusi udara di Jakarta lebih tinggi 3-4 kali lipat dibandingkan Subang, termasuk kadar ozon, kecuali kadar SO2 3-4 kali lebih tinggi di Subang, yang diduga berasal dari polusi Gunung Tangkuban Perahu yang masih aktif.

Dampaknya adalah gejala batuk dan mengi lebih banyak di Subang, tetapi asma di Jakarta secara bermakna jauh lebih berat. Dibandingkan dengan Bandung (5,2%), Semarang (5,5%), dan Denpasar (4,3%), prevalensi asma di Jakarta paling tinggi (7,5%).

dr Heru Sundaru Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: